Kamis, 05 November 2015

Broken

"BANGS*T!!" Kata makian itu meluncur dari lisan ibu. Sungguh diluar dugaan, Kak Ray pun merasa begitu terluka. Ini kali pertama ibu berkata kasar padanya.

Ira menangis di dalam kamarnya. Sementara Kak Nina tak tahu berada dimana. Belakangan dia semakin jarang di rumah. Lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-teman kantornya. Entah sampai kapan neraka ini akan berkobar di dalam rumah yang semestinya menjadi surga. Api asmara antara ibu dengan suami barunya benar-benar membakar keharmonisan keluarga Ira.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya pertengkaran itu pun selesai. Terdengar suara pintu depan yang dibanting dengan kasar, disusul dengan suara mobil yang melaju meninggalkan rumah.

Tok.. tok.. tok. Suara pintu kamar Ira diketuk dengan perlahan.

"Masuk kak..." Ira mempersilahkan dan buru-buru menghapus air matanya.

"Ira, makan dulu yuk? Seharian ini kamu belum makan apa-apa kan?" Kak Ray mendekati Ira yang tak bergeming di atas kasur. Ia lalu duduk disamping Ira, menatapnya dengan ekspresi seperti tak terjadi apa-apa.

"Aku enggak lapar kok kak. Ibu kemana?" Ira bertanya dengan suara sedikit bergetar.

Ray menghela nafas. "Ibu sudah pulang."

"Pulang kemana kak? Rumah ibu kan disini?!" Ujar Ira heran.

"Enggak lagi. Sekarang ibu sudah punya rumah baru dengan suaminya."

Mendengar itu air mata Ira langsung mengalir begitu saja. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Belum usai dukanya kehilangan bapak. Mengapa sekarang ibu juga harus dirampas darinya?

Kak Ray duduk disamping Ira dan mengusap air mata adiknya dengan lembut. "Sudahlah Ra, apa kamu enggak capek nangis terus? Ibu aja sudah enggak peduli sama kita. Dia kesini hanya demi uang."

"Apa kak?!" Ira kaget. Ia berharap hanya salah mendengar. Tidak mungkin ibu sampai seperti itu. Walau sekarang ibu sudah menikah lagi, namun sampai kapanpun mereka akan selalu menjadi anak ibu.

"Ibu...." Kak Ray tampak ragu-ragu ingin menjelaskan.

"Ibu kenapa kak? Kakak kok bisa ngomong kayak gitu soal ibu?"

"Tadi ibu minta buku tabungan dan surat berharga lainnya."

"Tapi buat apa kak? Selama ini kan selalu kakak yang simpan. Memangnya ibu berencana mau jual aset keluarga kita? Apa ibu lagi perlu banyak uang?." Ira tetap berupaya untuk berprasangka baik pada ibunya. Barangkali ada masalah yang ia tidak tahu.

"Entahlah Ra. Dua hari yang lalu ibu sempat minta 2 juta ke kakak. Dan barusan ibu minta uang lagi. Pas kakak tanya baik-baik, ibu malah marah."

"Jadi tadi kakak menolak permintaan ibu?" Tanya Ira dengan nada suara yang menyayangkan.

"MEMANGNYA HARUS GIMANA LAGI RA? KALAU KAKAK TURUTIN TERUS MAUNYA IBU, SEMUA WARISAN BAPAK BISA HABIS DALAM SEKEJAP. MEMANGNYA KAMU MAU HIDUP MELARAT? SAMPAI MATI PUN KAKAK ENGGAK AKAN MEMBIARKAN HIDUP KAMU SAMA NINA JADI MENDERITA. KALIAN BERDUA SEKARANG JADI TANGGUNGJAWAB KAKAK." Suara Kak Ray mendadak lebih nyaring dari sebelumnya dan ekspresinya pun berubah marah.

Ira menyadari bahwa ia telah menyinggung perasaan Kak Ray. Ia berusaha menggenggam tangan kakaknya namun segera ditepis oleh Ray.

"Maaf kak, Ira cuma... selama ini kita selalu nurut apa kata ibu, terutama...." Ira mengigit bibirnya. Kali ini ia sangat berhati-hati dengan ucapannya. Ia tidak ingin membuat kakaknya semakin salah paham.

"Sudahlah." Ray bicara sembari berlalu dari kamar adiknya. Ray tahu dan sadar betul bahwa ia dan adik-adiknya selama ini memang selalu menjadi anak yang penurut. Terutama dirinya. Seingatnya ia tak pernah sekalipun membantah perkataan maupun keinginan orangtuanya. Namun kali ini berbeda. Sikap berbakti yang selama ini ia jaga seolah menjadi sia-sia.

Cerpen by dhini iffansyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan lidah dan perbuatan tangannya. (HR.Bukhori)