Rabu, 29 Maret 2023

Si Paling Sibuk Sejagat Raya

Especially buat yang sudah kerja, pernah ngalamin engga, perasaan kok kayaknya aku yah yang paling sibuk di kantor, sementara yang lain kelihatan selow aja, engga riweuh, jarang lembur, pokoknya hidupnya adem ayem jauh dari konflik.

Bisa jadi ada benarnya. Bisa jadi juga seperti kata peribahasa "rumput tetangga selalu lebih hijau".

Apapun, please jangan sampai meng-underestimate pekerjaan orang lain. Jangan jadi manusia toxic yang bikin orang lain engga nyaman dengan sikap/kata-kata kita yang engga ada filternya.

Ini bukan perkara sensitif a.k.a baper ya, tapi kitanya yang juga harus punya empati dalam kehidupan bersosialisasi. Bukan hanya rumah tangga saja yang perlu suasana harmonis, di tempat kerja juga. Iya kan?

Boleh jadi dia itu juga sibuk, banyak deadline, dst, tapi pembawaan sikapnya yang tenang, engga grasah-grusuh atau berkoar-koar kayak kita membuat dia seolah engga "sesibuk" kita.

Boleh jadi dia memang kompeten, jadi bisa kerja jauh lebih efisien. Sementara kita complain harus mengerjakan 2-3 hal dalam satu waktu, dia sudah selesai mengerjakan 3-4 hal yang kita sendiri engga notice. Who knows?

Boleh jadi jam kerja efektif atau waktu sibuk mereka memang berbeda dari kita. FYI, ada kerjaan yang memang tergantung pada periode tertentu. So, engga usah julid lihat orang lain yang gabut di tempat kerja. Semua akan gabut dan sibuk pada waktunya.

Toh bila memang benar kita lah Si Paling Sibuk Sejagat Raya, coba diskusikan ke atasan terkait beban kerja berlebih itu, minta saran/bantuan dari sesama rekan, dan tingkatkan terus hard skill dan soft skill kita, agar bisa lebih profesional di tempat kerja.

In fact, setiap orang pasti memiliki masalah dan setiap masalah sudah sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

Yuk bisa yuk, fokus pada potensi biar engga terus iri dengki. Lebih ikhlas biar hati engga terus-terusan panas. InsyaAllah, setiap lelah, penat, pusing kita dalam bekerja itu akan menjadi amal kebaikan yang bernilai pahala.

Ingat, semua pekerjaan yang halal itu baik dan sama pentingnya.

Nabi shallahu alaihi wa sallam bersabda, "Mukmin yang satu dan lainnya bagaikan bangunan yang mesti menguatkan antara satu bagian dan bagian lainnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Entah kita sekarang ada di bawah, di atas, atau di tengah-tengah, optimalkan saja peran kita saat ini. Respect!

Wallahu a'lam bishawab.

#Opini #UnegUneg #SelfReminder 

Jumat, 17 Juni 2022

Lintang

Namanya Lintang, teman karibku semasa masih duduk di bangku SMP. Kami sekelas ketika kelas 3. Pada tahun terakhir kami berjuang mengenakan seragam putih-biru.

Lintang cukup berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Kesan tomboy adalah sesuatu yang dengan mudah orang lain dapatkan tentangnya. Namun bagiku, Lintang anak yang cerdas, energik, berani, tegas, serta memegang teguh apa yang menjadi prinsipnya. Hal itu barangkali jarang ditemui pada seseorang yang baru menginjak usia 14 tahun.

Aku menyukai Lintang sebagai teman sekelas sekaligus teman diskusi. Sebagai Si Ranking 1 tentu banyak yang bisa ku pelajari darinya. Sebenarnya Lintang adalah tipe anak yang enggak neko-neko dan easy going terhadap siapa saja kecuali dengan orang yang sok/belagu, boleh dikatakan itu pengecualian. Aku yang saat itu tak luput dari sasaran bully merasa lebih comfort and safety kalau bersama Lintang. She's like a wondergirl for me!.

Namun selepas kelulusan, aku pun mulai jarang berinteraksi dengan Lintang karena kami bersekolah di SMA yang berbeda. Meski demikian terkadang kami masih bertukar pesan dan bertanya kabar masing-masing. Itu berlanjut selama bertahun-tahun hingga kami lulus kuliah. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa semua kontak dan akun sosial media Lintang sudah tidak aktif.

Kemana perginya Lintang?

Aku pun memutuskan untuk bertanya kepada teman lain yang barangkali tahu kabar tentangnya. Singkat cerita aku menemukan akun instagram Lintang yang baru and I feel something bad happened.

Bukannya Lintang memposting hal-hal aneh, dia bahkan nyaris tidak memposting apa-apa. Dan itu bukan Lintang yang selama ini ku kenal.

Aku lalu mengirimkan direct message kepada Lintang yang kemudian mengirimkan nomor kontak WhatsApp-nya yang baru. Meski banyak hal ingin ku tanyakan saat itu juga, tapi aku berusaha menyimpannya hingga hari kami bisa bertemu secara langsung.

Selang dua bulan setelah janji temu yang berulang kali gagal, akhirnya kami bisa bertemu siang ini. Lintang menjemputku di kantor untuk makan siang di luar. Ya.. dia terlihat masih seperti Lintang yang sama. Lintang yang selalu tersenyum manis ketika mengobrol denganku di kelas, 20 tahun silam. 

Tak perlu waktu lama. Di dalam mobil yang terus melaju, Lintang pun menceritakan kabarnya.

Kabar yang sudah ku terka sebelumnya, namun masih berharap bahwa itu hanya bagian dari over thinking ku saja.

Lintang akan segera bercerai.

Bahkan lebih buruk. Dia yang digugat cerai meski bukan dia yang berselingkuh.

Serasa memasuki plot drama series The World of Married dan Layangan Putus. Tapi sekarang pemeran utama wanitanya adalah sahabatku sendiri.

Sambil tetap tersenyum, Lintang terus bercerita dengan air mata yang tertahan dipelupuk. Rintik hujan membuat suasana siang itu semakin sendu. Sedang aku sekuat tenaga menahan diri, menguatkan hati agar tak menangis dihadapan Lintang. Ya Tuhan... betapa malang perempuan dihadapanku ini. Dikhianati oleh laki-laki yang ia percayai dan ia dampingi selama hampir satu dekade.

Aku lalu bertanya perihal lost contact kami. Mengapa ia mengubah akun sosmed dan nomor ponselnya..? Jawaban Lintang selanjutnya pun tak kalah membuatku sesak.

Semua akun sosmed, nomor ponsel, hingga e-mail di ambil alih oleh suaminya. Lintang juga tak diizinkan bekerja. Ia hanya boleh mengurus keperluan rumah tangga. Terisolasi namun tidak difasilitasi.

Lintang mengaku mencoba menerima keputusan suaminya itu. Meski tak paham dengan alasan sebenarnya. Hingga belakangan suaminya berubah. Tak lagi memedulikan keluarga bahkan sampai tahap berperilaku kasar dan arogan. Episode selanjutnya begitu mudah ditebak. Perempuan lain hadir ditengah mereka. Bukan satu atau dua.... Tapi banyak perempuan mengaku telah berhubungan dengan suaminya. Sukses karier tak membuat suaminya lebih mensyukuri Lintang sebagai istri yang setia membersamainya semenjak menjadi karyawan biasa. Laki-laki itu bahkan mengabaikan perempuan yang menjadi ibu dari darah dagingnya sendiri. Inikah alasanmu membatasi dan mengurung Lintang di rumah? Mematikan setiap potensi dan mimpinya, agar kamu bisa bebas bersenang-senang di luar sana. 

Betapa mudahnya manusia berubah.
Betapa mudahnya manusia lupa.
Betapa mudahnya manusia membuang sesuatu yang dulu berharga baginya.

Ah, sudahlah... semua itu hanya membuktikan bahwa he doesn't deserve it at all
Lintang kami terlampau baik untuk laki-laki macam dia.

But you know what?

Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah sikap pelakor yang begitu bangganya setelah merusak rumah tangga orang lain. Hingga menyuruh Lintang introspeksi diri. Begitu tidak tahu malu dan vulgar mengungkapkan setiap perilaku perselingkuhannya. Bahkan mengaku pernah melakukan hubungan di dalam mobil yang notabene adalah mobil yang dipinjamkan oleh orangtua Lintang.

Is it true that life is drama?? Or life is more dramatic than drama itself.
Anyway.... Cheating with a good person is like throwing away a diamond and taking a stone.
So please don't forget ... what did you do and who you are exactly? diamond or stone? 

Dear Lintang...
Teruslah bersinar seperti namamu
Percayalah, awan kelam ini akan segera berlalu
Tuhan tidak akan pernah mengabaikan perihmu
Dia tengah menyiapkanmu memasuki skenario cerita baru
We love you... and always there for you...

Jumat, 11 Maret 2022

Numb

Barangkali cinta itu sudah terkikis
Dengan ujaran kekecewaan darimu
Tentu saja.. 
Aku memang manusia yang memiliki segunung kekurangan
Aku sadar.. 
Standar langitmu bukan sesuatu yang bisa ku kejar
Karena itu aku berhenti
Berhenti mengharapkan cinta yang tak bisa kepenuhi syaratnya
Aku kira kita bisa sama-sama hidup tenang setelahnya
Tetap berdampingan meski tanpa cinta
Namun kecewa itu kini menjadi benci
Membuahkan berbagai caci maki
Yang tak ku mengerti, aku bahkan tak menangis lagi
Mungkinkah aku tak sekedar berhenti? 
Melainkan juga telah mati. 

Sabtu, 04 September 2021

Ikhtiar Mencari Rezki

Jakarta, 2016.

Semenjak pagi langit bolak-balik menurunkan hujan. Cuaca kota Jakarta yang galau seolah mewakili suasana hati seorang lelaki yang tampak pasrah  memandang  keluar dari jendela kamar kos-nya. Hari ini pun dia harus merelakan rezki yang tak ditakdirkan untuknya...

*** 

Kota Malang, 2009.

Yulia Rezki Dinanti atau lebih akrab disapa Uli. Secara fisik bisa dibilang rata-rata. Di luar sana masih sangat banyak yang lebih cantik dan stylish darinya. Namun kepribadiannya yang tak biasa telah membuat seorang lelaki yang cukup populer di Kampus Putih itu rela melakukan nyaris apa saja untuk mendekatinya.

Lelaki itu adalah Tiar, lengkapnya Raden Ikhtiar Al Fathan. Entah berapa banyak mantan kekasih yang sudah dimilikinya, belum termasuk TTM alias teman tapi mesra yang tersebar di seluruh angkatan. Bukan berarti Tiar tipe lelaki brengsek. Barangkali dia justru memiliki hati yang terlalu baik, hingga tak tega menolak setiap ungkapan cinta yang ditujukan untuknya. Seringkali perpisahan itu malah disebabkan karena dia telah diselingkuhi. Meski demikian, Tiar tak pernah berduka terlalu dalam. Sederet perempuan cantik itu tidak benar-benar cantik dimata Tiar. Semudah dia menerima, semudah itu pula dia melepaskan. 

Lantas apa yang membuat Uli berbeda? 
Uli yang nota bene adalah adik tingkat Tiar, adalah perempuan pertama yang membentangkan jarak dan memberi batasan yang jelas dengannya. Disaat perempuan lain berlomba mencuri perhatian dan berusaha mendekatinya. Tiar tentu tertegun sekaligus penasaran dengan sikap Uli yang terkesan sangat idealis. 

Sebenarnya bukan karena Uli tak tertarik dengan Tiar. Sedari awal dia menjadi mahasiswi baru, sosok Tiar yang good looking dan easy going seringkali menjadi buah bibir di kalangan para mahasiswi. Teman dekatnya kala itu pun terang-terangan bercerita bahwa telah mengirimkan surat cinta kepada Tiar selepas kegiatan ospek berakhir. 

Sebagai mahasiswi perantauan, sedikit banyak Uli merasa terbebani untuk bisa segera menyelesaikan kuliah. Keluarganya memang tidak miskin, tapi tidak juga bergelimang harta. Ayahnya yang merupakan pensiunan PNS, kini hanya menjalankan bisnis kecil-kecilan. Uli sadar bahwa dirinya harus fokus. Sebab biaya hidup dan kuliah akan terus mengalir hingga dia pulang ke kampung halaman dengan gelar sarjana. Asmara? Ah, itu bukanlah prioritas. Menjalin hubungan sekarang toh akan menjadi terlalu dini. Masih banyak impian yang ingin Uli realisasikan. Mungkin nanti ketika dia siap menikah, dia akan mempertimbangkannya lagi. Tapi untuk saat ini, jawabannya jelas tidak.

*** 

Setelah setahun berlalu, Tiar akhirnya menemukan alasan untuk bisa selalu bertemu Uli, yakni dengan cara bergabung di lembaga yang sama. Unit Pelayanan Teknis Bimbingan Konseling (UPT BK) pun menjadi saksi perjuangan Tiar. Rekan Tiar sesama aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sampai geleng-geleng kepala melihat kegigihan Tiar kali ini. "Semoga semangat kamu nyari dana buat kegiatan baksos kita nanti engga kalah dengan semangat kamu ngejar cewek ya, Yar!." Ujar Ibnu, Kepala Divisi Humas BEMFA Psikologi, setengah mengompori. 

Tiar sama sekali tak mau ambil pusing. Baginya apa yang ia rasakan lebih penting ketimbang pendapat orang lain. Semenjak kenal dengan Uli, Tiar merasa lebih bahagia. Perasaan bahagia itu tidak biasa. Dia sendiri kesulitan mendeskripsikannya. Tiar tersenyum hanya dengan memikirkan akan ada kemungkinan berpas-pasan  dengan Uli di lorong Gedung Kuliah Bersama (GKB). Tiar bahkan dengan mudahnya terpesona ketika Uli meminjamkan pulpen untuknya. Cukup dengan melihat Uli, sudah membuat Tiar bahagia. Oleh karena itu, Tiar ingin membalasnya dengan berusaha membuat Uli bahagia setiap hari. 

Berbanding terbalik dengan Tiar, Uli merasa canggung dengan gosip yang beredar tentang mereka. Sepertinya semua orang sudah tahu tentang perasaan Tiar padanya. Termasuk Ibu Hamidah, Kepala UPT BK, yang seolah sudah resmi menjadi bagian dari tim sukses cinta Tiar. "Uli dan Tiar nanti temani Ibu ya hari Minggu ini! Kita ada klien ABK*. Kalian berdua harus datang duluan. Siapkan alat tes dan ruang observasinya.". Titah Bu Hamidah dihadapan rekan BK lainnya yang langsung disambut  mereka dengan cieee menggoda. 

Uli hanya bisa mengangguk, sedang Tiar tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya hingga membuat ruangan semakin gaduh. Sebenarnya Uli sangat benci situasi semacam itu, tapi dia tahu bahwa tak satupun dari orang-orang itu pantas ia benci. Uli menganggap ibu Hamidah sudah seperti ibunya sendiri. Kemudian Mas Raka, Tasya, Dwi, dan rekan BK lainnya merupakan teman yang selalu setia membantunya selama ini. Lalu Tiar... Tiar juga tak melakukan kesalahan apapun. Apa yang salah dengan menyukai seseorang? Tiar tak pernah memaksa atau mengganggunya. Meski demikian, Uli selalu bisa merasakan kehadiran dan perhatian Tiar untuknya. 

Pernah suatu ketika, Uli kesulitan mendapatkan narasumber transgender sebagai tugas kuliah. Tiar yang mengetahui hal itu langsung mencarikan kontak narasumber yang bisa dihubungi dan merekomendasikan tempat yang cocok untuk melakukan wawancara. Disaat yang lain, Uli yang sangat menggemari penulis Asma Nadia, tiba-tiba saja mendapatkan 3 buku terbaru Asma Nadia lengkap dengan tanda tangannya!. Hadiah-hadiah itu tidak pernah diserahkan langsung oleh Tiar. Tiar bahkan tidak menyebutkan namanya. Namun Uli tahu bahwa itu pasti darinya. Memang siapa lagi? 

*** 

(bersambung insya Allah) 

*ABK = Anak Berkebutuhan Khusus

Senin, 14 Juni 2021

Exhausted

Lelah..

Sungguh lelah...

Ingin keluar dari lubang terkutuk ini
Dimana makhluk serakah terus menerus menggerogoti

Yang tanpa rasa malu
Hidup bagaikan benalu

Begitu miskin ilmu
Namun berlagak paling tahu

Innalillahi wa innailahi roji'uun..

Musibah..
Sungguh musibah...

Ketika keberkahkan tiada
Berusaha pun seolah sia-sia
Diam hanya menunggu keruntuhannya

(Dhini Iffansyah)

Jumat, 26 Februari 2021

Life Message

4 tahun kini usiamu

Berlalu sudah malam hening kami dihiasi suara tangismu
Celoteh lucumu masih terngiang dalam rindu
Langkah kecil itu menapaki hati kami yang menyayangimu

Kelak berlarilah
Menuju mimpi yang sering kau ceritakan pada kami

Mungkin kau akan jatuh
Tapi luka itu akan sembuh
Menyisakan kau yang lebih kuat dan terus bertumbuh

Tertawalah bersama dunia
Jangan pernah takut padanya
Karena Allah akan menjaga kita

Rendah hatilah...
Maafkan agar hatimu tidak lelah
Jemput takdir hidupmu dengan cara terindah

Bunda dan Abah..
Selalu sayang Abror
Dimanapun
Kapanpun

Stuck Parents Vs Lucky Parents

Orang tua mana sih yang engga sayang sama anaknya?

Saya yakin normally tidak ada. Terlepas dari apakah si anak itu berlabel nakal, bodoh bahkan kurang ajar sekalipun.

Tapi makin kesini makin banyak orang tua yang seperti stuck dalam menghadapi anaknya. Bingung, nih p ppp diapain ya?? Dikasih tau udah, dilembputin, dikerasin juga udah, tapi kok? 

Ok.

Kalau didoain?
Udah juga belum? 

Wait.

Doa pasti lah habis selesai sholat. Tapi serius engga? Apa sekedar SOP tanpa dihayati?

Allah tau kok mana yang meminta sungguh-sungguh dengan penuh harap dan kerendahan hati..

Mana yang cuma cas cis cus tapi tetap aja berserah dengan kemampuan diri.

Kapan sih Allah menyuruh kita sukses?

Allah cuma minta kita usaha (ikhtiar) seraya berdoa and finally serahkan semua hasilnya pada Allah (tawakal).

So, jangan putus asa dalam mendidik, menasehati, mengarahkan, membentuk karakter anak kita menjadi pribadi ahli surga. Karena memang itulah tugas kita sebagai orang tua.

Pun jika anak kita tak kunjung berubah maka jangan pikir usaha itu sia-sia. InsyaAllah, jika niat kita ikhlas.. itu semua akan bernilai kebajikan berganjar pahala.

Tapi sekali lagi..

Tak perlu pusing dengan kata orang.

Kita yang kelak ditanya dan diminta pertanggungjawaban oleh Allah mengenai pola asuh/pendidikan terhadap anak kita. Bukan tetangga apalagi para netizen yang hobinya julid di social media.

Ok.

Take a breath yah mom and dad.

Let's set our mindset.

Bahwa yang ngasih kita amanah ini adalah Allah SWT.

 It means amanah ini engga main-main, dan Allah tau betul bahwa kita sanggup menerimanya.

Jadi jangan pernah underestimate sama kemampuan diri.

Kita sebagai orang tua memang punya kekurangan, tapi jangan jadikan itu sebagai alasan dan pembenaran dalam ketidakberdayaan mengahadapi ajaibnya perilaku anak zaman now.

Jangan bosan upgrade ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu parenting. Belajarlah dari pengalaman diri dan orang lain.

Anak adalah big project sepanjang hayat. Amal jariyah yang kita harapkan saat jasad terbaring di liang lahat. 

Yakin, kesulitan kita dalam mendidik dan membesarkannya saat ini, kelak dapat menjadi hujjah yang memudahkan hisab di akhirat nanti.

Kalau sudah begitu,

Everyone will say, "How lucky you are!"

- Dhini Iffansyah (Bunda Abror)

Senin, 01 Februari 2021

Alhamdulillah Ada Masalah

"Huuuffh..."
Calista menghela nafas panjang...

Satu hari lagi dimana pekerjaannya terasa begitu menguras emosi.

Masalah datang bertubi-tubi, seolah tak ingin membiarkannya melepas penat walau sejenak.

Bekerja memang pilihannya. Tapi tetap saja, tak terbayangkan bahwa beban yang diterimanya akan sampai seperti ini.

Waktu..
Tenaga..
Pikiran..
Bahkan perasaan..

Calista yang dulu cuek perlahan terseret dalam trend ke-baper-an masa kini.

Lisannya selalu gatal untuk mengeluhkan segala sesuatu yang nampak kacau balau, tak berjalan sesuai rencana maupun harapannya.

Yaaah... Beginilah nasib pekerja.

Kalau tak mau pusing, silahkan berhenti. Pastinya itu juga bukan solusi untuk hidup Calista saat ini.

"Allahu Akbar......." Calista berkata lirih sembari menatap ke langit biru yang terbentang.

Tak ada gunanya mengeluh. Orang-orang mungkin akan mendengarkan namun hanya Allah yang sanggup meringankan beban. Calista mengucapkan kalimat itu di dalam hati untuk dirinya sendiri. Matanya mulai berkaca-kaca.

Terpaan angin sore itu kemudian membelai wajahnya dengan lembut. Calista merasa alam semesta adalah teman yang setia menghibur dan menguatkannya.

"Alhamdulillah..." kata itu akhirnya menutup renungan Calista. Senyum tipis itu pun kembali. 

Minggu, 31 Januari 2021

Bagaimana? (curahan hati seorang anak yang memiliki ibu pengidap manik depresif)

Apa yang ku rasakan sekarang..... coba kau bayangkan dan jawablah sendiri....

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika ibumu membangunkanmu pukul 1.30 malam kemudian berceloteh tidak jelas selama setengah jam.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika bangun di pagi hari dan mandapati ibumu sudah berada di garasi tanpa jelas apa yang ia dilakukan.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau melihat telur asin, pisang goreng, roti tawar, dan ikan berada dalam satu penggorengan. Terabaikan begitu saja di atas kompor.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika nasi goreng yang kau buat dan semula berada di wajan, kemudian kau temukan dibungkus dalam kantong plastik, berada di mangkok berisi air, bahkan sisanya bercampur dengan bubur kacang hijau.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau harus selalu menunggui matangnya air dan nasi yang dimasak di dapur, karena kalau tidak.. ibumu akan mematikan kompor dan mencabut kabel ricecooker-nya sebelum benar-benar matang.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika sedang mendengar cerita ibumu, tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika suatu pagi... ibumu menyita setiap makanan yang ingin kau santap sebagai sarapan kemudian mematikan televisi sambil menatap marah padamu.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kamu sedang berada dalam kamar mandi, kemudian tiba-tiba ibumu datang dan menggedor-gedor pintunya dengan keras... meneriakimu... menyuruhmu untuk segera keluar.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika selepas sholat dan duduk sejenak untuk melanjutkan tilawah, kemudian ibu masuk ke kamar dan mulai memarahimu kembali dengan segala tuduhan yang menyakitkan hati.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau berupaya membela diri, ibumu justru ingin menyeret paksa kamu ke kamar mandi...  Lantas kau berteriak dan memberontak dalam tangis yang tak dianggap.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau terpaksa menyingkirkan semua pisau yang ada di rumah karena khawatir ibumu akan berbuat nekat 

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau harus menyembunyikan kunci pagar demi mencegah ibumu keluar rumah tanpa sepengetahuanmu.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika ditinggal berdua bersama ibumu, justru membuatmu merasa takut dan terintimidasi.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau sudah ingin kabur dari rumah... kau dapati bahwa ibumu harus berobat jalan dan tak ada yang bisa merawatnya kecuali dirimu sendiri.

Bagaimana perasaanmu...?
Ketika kau berusaha menegarkan diri... duduk disamping ibumu yang sedang dievaluasi oleh psikiater. Sambil tersenyum kau menjawab satu demi satu pertanyaan yang dilontarkan tentang kondisi ibumu. Namun kau justru mendapati kakakmu menangis dibelakangmu dengan diam-diam. Kau tahu, bahwa pemandangan itu terlalu menyakitkan untuknya.

#2014 #WorstExperience #BringOutTheBest

Jumat, 29 Januari 2021

Kenangan

Diam
Sejenak ku tengok ke arahmu
Sama seperti yang ku ingat dahulu

Sunyi
Namun hati masih bertanya
Apa makna dari yang ku rasa

Tak pernah ada jawaban
Tak jua ku coba mencari penjelasan

Mengalir saja...

Selayaknya tahun-tahun itu
Menjauhkan...
Menuju arah yang berbeda
Membawa kita bersama mereka

Mungkin inilah jawabannya
Akhir yang tak bermula
Aku, Kau dan Mereka
Istimewa dengan cara yang berbeda

(dhini iffansyah)

Jumat, 15 Juli 2016

Jejak Hijrahku

Mengapa Allah memilihku ?

Pertanyaan ini mulai terbesit kembali. Semakin ditelusuri, semakin aku yakin bahwa ini semua benar-benar kuasa Illahi.

Tahun 2008 silam, berkat paksaan ibu akhirnya ku putuskan berhijab. Hanya hijab ala kadarnya. Bukan dengan kerudung lebar seperti yang biasa ku pakai sekarang. Rok dan gamis pun hanya kadang-kadang ku kenakan. Terlebih lagi kaos kaki dan deker pergelangan tangan. Semua perlengkapan itu tampak begitu merepotkan.

Sebenarnya jauh sebelum diterima di perguruan tinggi, aku sudah merencanakan untuk menjadi wartawan koran kampus BESTARI. Saat itu aku memang sangat berminat pada bidang jurnalistik dan kepenulisan. Namun Tuhan memiliki rencana lain.

Tiba-tiba aku mendapat ide untuk mencari komunitas muslim dan bergabung bersama mereka. Padahal dulu saat masih SMA, diajak pengajian pun hanya senyum-senyum saja, aku sama sekali tidak tertarik apalagi tergerak untuk melangkahkan kaki kesana.

Mungkin karena hidup merantau jauh dari keluarga membuatku merasa sepi dan hampa. Aku merindukan suasana rumah. Rumah yang bisa membuatku nyaman dan aman berada di dalamnya. Dengan mudah aku temukan semua itu pada diri mereka, orang-orang shalih yang terlihat begitu menjaga dan terjaga. Walau sepenuhnya sadar bahwa aku berbeda, aku tetap ingin ada diantara mereka.

Nama rumah itu adalah Lingkar Psikologi Asy-Syifa' atau lebih akrab disebut LISFA. Sebuah lembaga semi otonom bidang kerohanian islam di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Aku mulai menaruh perhatian pada LISFA bukan pada saat PESMABA (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), melainkan saat seorang ukhti mempromosikan LDL (Latihan Dasar LISFA) ke ruang kelas kami, F class 2008. Penampilannya sederhana tapi memesona. Senyum ceria dan bersahabat terpancar jelas diwajahnya. Dari sanalah aku semakin mantap untuk mendaftarkan diri dan mengikuti rekrutmen LISFA yang diadakan selama dua hari, satu malam.

Ketika malam tiba, seorang akhi menjelaskan sesuatu kepada kami. Beliau berkata, "Siapa yang tidak kenal dengan Thomas Alva Edison ? Pada malam hari ini kita dapat berkumpul dengan keadaan terang benderang karena seorang Edison yang telah menemukan bola lampu. Bayangkan! begitu populernya Thomas Alva Edison, begitu luar biasa kecerdasan dan jasanya bagi milyaran manusia di dunia. Namun dengan semua itu, ketika ia wafat tetap tak bisa masuk surga."

Deg!

Barangkali itu adalah saat pertama aku mulai menyadari hakikat iman di hati. Sungguh berharga keimanan yang telah diwariskan oleh orangtuaku ini.

Seusai LDL, aku pun mulai berkenalan dengan mentoring islam. Mentoring ini diadakan sepekan sekali bersama dengan seorang mentor dan beberapa akhawat lainnya.

Sosok mentor pertamaku juga amat mengesankan. Anggun, cerdas dan shalihah! Tutur katanya lembut ditambah dengan senyuman tulus yang selalu menghiasi paras cantiknya meski tanpa make up. Darinya aku mulai belajar tentang apa itu ukhuwah islamiyah.

Hari-hari bersama dengan LISFA memang tak selalu manis. Memang begitulah resiko menjadi aktivis. Namun ajaibnya aku tetap bertahan disana. Ada saja "sebab" yang terjadi hingga niat untuk pergi selalu diurungkan berulang kali.

Akhirnya yang ku lakukan adalah mencoba menikmati setiap peran yang diamanahi. Mulai dari magang di Departemen Public Relation, kemudian menjadi Sekretaris lalu Ketua di Departemen Study Research, dilanjutkan sebagai Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan terakhir sebagai salah satu anggota di Majelis Pertimbangan Organisasi.

Masyaallah. Pengalaman 4 tahun yang sungguh luar biasa dan tak mampu ku goreskan dengan kata-kata. Bersama mereka ku temukan mutiara hikmah kehidupan. Mereka menjadi saksi sekaligus teman dalam perjalanan hijrahku. Dan ku rasa inilah jawabannya. Alasan mengapa Allah memilihku berjuang bersama mereka.

"....Ketika kita belum mampu menjadi orang baik, setidaknya jangan membenci orang-orang baik. Justeru bertemanlah dengan mereka, karena berteman dengan orang baik insyaallah akan memberi kita banyak kebaikan."

Riszky Adhini Rachmi - Alumna LISFA angkatan 2008.

Nb: Terimakasih LISFA! Semoga semakin eksis dan istiqomah menebar kebaikan. Love you cause Allah ikhwah fillah! Salam ceria dan bersahabat. :)

Rabu, 25 Mei 2016

Menikah to Jannah

Pernikahan ini memang tak sempurna. Kamilah yang harus berjuang bersama untuk menyempurnakannya. Walau memang tidak akan pernah benar-benar sempurna. Bukan berarti ini menjadi sia-sia.

Sendirian memungkinkan kami untuk melakukan lebih banyak hal sesuka hati. Namun berdua membuka kesempatan untuk melakukan hal yang lebih besar dan berarti. Membangun keluarga islami, mendidik generasi rabbani, itulah cita-cita kami. Insyaallah, semoga Allah memberkahi.

(dhini iffansyah)

Kamis, 14 April 2016

Sahabat Alya

"Ada apa dengan wajahmu pagi ini Alya? Mengapa nampak mendung disaat cuaca di luar begitu cerah?"

Alya yang tengah menatap dirinya sendiri di cermin hanya terdiam menanggapi pertanyaan Ayla, teman bayangannya.

"Hei! Jangan diam saja. Ayo ceritakan padaku." Ujar Ayla memaksa.

"Bukankah seharusnya kau sudah tahu?" Alya menjawab dengan dingin.

"Tentu aku tahu. Aku juga tahu kalau semalaman kau tidak bisa tidur karena masalah itu."

"Lalu untuk apalagi kau bertanya Ayla? Apa sekarang kau mau ikut-ikutan berbasa-basi seperti mereka?"

"Tentu saja tidak. Aku bertanya agar kau bisa mulai bercerita. Karena itulah yang kau butuhkan sekarang."

Mendengar itu Alya seketika menitikan air mata. Entah sejak kapan ia mulai "bersahabat" dengan Ayla, yang jelas itu sudah sangat lama. Alya yang dari kecil selalu merasa kesepian dan diabaikan, hanya bisa mengandalkan Ayla untuk mendengarkan keluh kesahnya. Selama ini Ayla yang selalu ada untuknya.

"Bukankah terlalu awal untuk menangis? Tapi sudahlah, aku tahu itu akan membuat perasaanmu lebih baik. Iya kan?"

"Kali ini tidak..."

"Benarkah?"

"Iya. Rasanya aku ingin muntah. Aku muak dengan sandiwara keluarga bahagia ini. Aku hanya pura-pura bahagia sama seperti mereka."

"Ku kira selama ini mereka hanya sibuk. Apa kau mau mengatakan kalau kesibukan itu juga pura-pura?"

"Bukan tentang kesibukannya, tapi tentang cara mereka memanfaatkan semua itu untuk menyisihkanku. Sebab mereka memang tidak peduli apalagi menyayangiku. Mereka lebih menyukai kesibukan itu daripada aku."

"Tapi mereka selalu ingat hari ulang tahunmu kan Alya. Bukankah kamu selalu senang ketika merayakannya bersama mereka?"

"Iya. Setahun sekali. Hanya setahun sekali. Lalu bagaimana dengan 364 hari lainnya?"

"Setidaknya kamu mendapatkan kado mahal yang memang tidak mungkin dibeli setiap hari kan?"

Alya menggeleng. "Hal yang paling membuatku senang adalah bisa bersama mereka seperti layaknya keluarga. Setiap tahun aku hanya mengharapkan kebersamaan itu bisa terjadi lebih lama dan lebih sering."

"Aku masih beranggapan kalau mereka tidak seburuk itu. Hanya saja sikap mereka memang belum sesuai dengan harapanmu."

"Maksudmu harapanku terlalu berlebihan?"

Ayla terdiam.

"SEORANG ANAK BERHARAP DITANYA TENTANG PERASAANNYA DAN DIDENGARKAN PENDAPATNYA OLEH IBU KANDUNGNYA SENDIRI, APA ITU SUNGGUH BERLEBIHAN??!" Suara Alya terdengar lebih nyaring dan bergetar. Mukanya yang semula putih pucat sekarang berubah merah.

"Tenanglah... Apa kau tidak melihat wajahmu sangat jelek kalau sedang marah?"

Sekarang giliran Alya yang terdiam oleh teguran Ayla.

"Aku tahu harapan dan keinginanmu sangatlah sederhana. Tapi bukankah kau sudah mampu mengatasi keadaan ini selama 25 tahun? Hatimu sudah terlatih. Kau hanya perlu bertahan lebih lama lagi."

"Ayla... Apakah Tuhan memang menciptakan hati untuk terus disakiti?"

"Lebih tepatnya Tuhan ingin kita tahu nikmatnya bersabar dan memaafkan." Ujar Ayla dengan senyuman yang juga mengembang diwajah Alya.

"Terimakasih. Aku selalu bisa mempercayaimu."

"Kau tahu? Kau juga bisa mempercayai orang lain. Mulailah dengan membuka hatimu. Bertemanlah dengan orang-orang baik. Akan jauh lebih menyenangkan berbincang dengan teman-teman baru ketimbang menghabiskan waktumu disini."

"Apa kau mulai lelah mendengarkanku..?"

"Aku hanya bayangan. Aku tidak pernah merasa lelah. Datanglah padaku bila kau butuh merefleksikan diri, tapi hiduplah sebagaimana orang hidup. Hiduplah dalam kenyataan. Hadapi kenyataan itu walau sesulit apapun. Karena kesulitan itulah yang membuatmu kuat. Cukup kuat untuk menampung kebahagiaan setelahnya."

Setelah mengatakan itu secara perlahan bayangan Ayla memudar dan hilang sama sekali. Kini Alya hanya melihat bayangan dirinya di cermin. Meski sebenarnya Ayla tak pernah benar-benar pergi.

(dhini iffansyah)

Rabu, 23 Maret 2016

Khitbah (Pinangan)

Bismillah. Rindu, mohon maaf sebelumnya, apakah sekarang kamu sedang dalam keadaan dikhitbah orang lain?

Rindu tercenung setelah membaca sebuah SMS pagi ini. Sebelumnya ia tak menyangka bahwa apa yang dulu diwanti-wanti oleh teman halaqahnya benar-benar akan terjadi padanya.

Ukhti Nahda pernah bercerita pada Rindu tentang proses pernikahannya. Bagaimana pertama kali ia bisa bertemu sang calon suami lalu dilanjutkan dengan ta'aruf, khitbah dan persiapan akad nikah. Setiap proses itu memang tak selalu mudah. Namun ada satu poin penting yang disampaikan ukhti Nahda waktu itu, yakni saat proses menuju akad nikah. Walaupun saat itu restu sudah didapatkan dan tanggal pun telah ditetapkan, bukan berarti jalan selanjutnya akan menjadi bebas hambatan. Pada kenyataannya ujian pada masa itu melebihi proses-proses sebelumnya. Sebab kali ini yang diuji adalah kemantapan hati.

Ukhti Nahda kemudian memaparkan kisah mengenai orang dari "masa lalu" hingga orang baru yang seperti tiba-tiba saja bermunculan. Bahkan bisa saja salah satu diantara mereka adalah seseorang yang sebenarnya telah lama diharapkan. Lantas bagaimana? Tidak bisa menerima namun juga berat untuk menolak. Dan itulah ujian akhir sesungguhnya menuju janji suci pernikahan.

Sebagai muslimah kita tidak boleh terombang-ambing dalam perasaan. Tegaslah pada diri sendiri dan siapapun yang mencoba goyahkan iman. Ingatlah, ikatan khitbah bukanlah ikatan sembarangan yang seenaknya bisa diputuskan. Disana ada komitmen yang harus diperjuangkan dan ukhuwah yang wajib diselamatkan. 

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang lelaki (muslim) tidak boleh meminang (wanita) yang telah dipinang lelaki (muslim) lain, sampai lelaki pertama membatalkan pinangannya atau dia mengizinkan lelaki kedua (untuk meminang si wanita).”

*Hikmah syariat ini adalah menihilkan permusuhan dan kemarahan yang bisa menyebabkan satu pihak menganggap dirinya suci dan mencela pihak lain. Padahal menganggap suci diri sendiri adalah tindakan tercela. Ibnu ‘Abidin (yang merupakan salah seorang ulama fikih Mazhab Hanafi) mengatakan bahwa sebuah pinangan yang menimpali pinangan lain merupakan bentuk ketidakramahan dan pengkhianatan.

Rindu menghela nafas panjang. Tentu ia tak ingin menjadi pengkhianat yang merupakan salah satu ciri dari orang munafik. Alhamdulillah Allah masih menjaganya melalui ilmu dan nasehat. Setelah menata hati dan pikiran, ia pun membalas SMS itu..

Iya sudah. Tolong jangan menghubungi saya lagi ya. Terimakasih.

Begitulah akhirnya. Singkat dan jelas. Tanpa perlu keterangan atau basa-basi lainnya. Sebab jodoh selalu datang tepat pada waktunya. Jika terlambat maka bukan jodoh namanya. Itu saja.

(dhini iffansyah)

*Sumber: https://muslimah.or.id/4784-menimpali-pinangan-lelaki-lain.html

Selasa, 15 Maret 2016

Note To Jombloers

Duhai jomblo beriman...

Menikah itu memang bukan lomba lari. Dimana yang lebih dulu akan menjadi pemenang sedang yang lain harus menerima kekalahan.

Namun menikah itu adalah sunnah. Dan seperti yang kau tahu bahwa dalam hal beribadah atau perkara ma'ruf apapun itu, kita diperintahkan untuk senantiasa ber-fastabiqul khairat.

Jadi jangan terlena dengan pikiran masih memantaskan diri. Sebab hidup itu memang sebuah proses tanpa henti. Setelah menikah pun kita harus tetap berbenah diri.

Sabar bukan berarti diam dan pasrah. Sabar dalam penantian berarti berdoa dengan istiqomah, berikhtiar tanpa lelah, dan bertawakkal hanya kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Jadi luruskanlah niatmu lalu jemputlah cinta dengan cara yang dicintai-Nya.

(dhini iffansyah)

Selasa, 08 Maret 2016

Cinta Berjarak

Rasanya sakit dan ingin tak mempercayai. Namun memang itulah yang terjadi.

Apa bagusnya dari sikapmu itu?
Apa untungnya bagimu?
Bahagiakah kau setelah melukaiku?

Aku tidak takut dengan ancamanmu, yang aku sesalkan adalah mengapa kau harus mengancamku?

Aku bukan boneka yang tak punya hati dan logika.

Aku sudah dewasa dan berhak memilih jalan yang ku suka.

Aku tahu kau telah berjasa. Aku tak akan mengabaikannya. Tapi bukan berarti kau bebas menentukan semua.

Kini jarak yang ada semakin terbentang jauh diantara kita.

Entah sampai kapan kau baru menyadari. Kerasnya hati dapat mengubah cinta menjadi benci.

(dhini iffansyah)

Rabu, 17 Februari 2016

Calm & Trust

Apalagi sekarang? Permasalahan selalu datang tak kenal waktu, tak peduli apakah aku siap atau tidak.

Belakangan sibuk mencari cara untuk meyakinkan orang lain, namun kini justeru hatiku sendiri yang mulai mempertanyakan.

Apakah aku mulai lelah? Entahlah...

Seharusnya aku sadar bahwa sesuatu yang indah tak diraih dengan mudah.

Tapi...

Tanpa dukungan orang-orang yang ku cintai, semua itu jadi tak berarti.

Mungkin aku belum lelah. Namun terlalu serakah.

Aku menginginkan semua, tanpa rela mengorbankan apa-apa. Aku tak ingin melepaskan, walau hanya salah satunya.

Aku ingin setiap orang hidup berbahagia selama-lamanya.

Ah, bukankah itu hanyalah angan-angan belaka? Sebab hidup di dunia bukan melulu rasa bahagia melainkan juga harus siap menanggung derita.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” .(QS.Al-Baqarah:155-156).

Maka bersikap tenanglah...

Berikan kepercayaanmu pada Tuhan karena kesabaran itu tak berbuah kecuali yang manis.

(dhini iffansyah)

Selasa, 09 Februari 2016

Belenggu

Adakah seseorang di dunia ini yang peduli akan hatiku?
Bila kau pun menolak untuk itu.

Berapa lama lagi aku harus bertahan berjuang sendirian?
Sungguh ini tak semudah yang kau bayangkan.

Tahukah kau tiap senyumku untuk membiaskan luka?
Tangisku tumpah kala malam menyapa.

Sadarkah kau bahwa aku bukan wanita perkasa?
Aku hanya menguatkan diri dengan mengais keimanan yang tersisa.

Lalu dimanakah letak kasih sayangmu?
Ku harap belum terkubur di masa lalu.

Bukankah dulu cintamu yang telah membesarkanku?
Maka sekali lagi biarkanlah aku bahagia dengan restumu.

(dhini iffansyah)

Rabu, 20 Januari 2016

Curahan Hati Rindu

"Wid, kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu bertanya sambil terus memotong kecil-kecil chicken steak dihadapannya.

"Hah?" Widya yang tengah asyik menyeruput avocado float-nya cukup kaget dengan pertanyaan Rindu yang tiba-tiba.

Weekend ini seperti biasa mereka berdua menyempatkan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama disela-sela kesibukan perkuliahan.

Dua cewek yang akrab sejak duduk di bangku SMP ini memang sudah sangat dekat bahkan sudah seperti saudara kandung. Meskipun karakter mereka jauh berbeda, Rindu yang feminin merasa nyaman dengan sosok Widya yang agak tomboy dan apa adanya.

Kadang Widya yang datang ke kosan Rindu, atau sebaliknya. Tapi kali ini mereka memutuskan untuk mencoba tempat nongkrong yang katanya lumayan cozy. Karena terbilang masih baru alhasil banyak orang yang datang kesana. Untungnya Rindu dan Widya masih sempat mendapatkan kursi yang diletakan di depan resto.

"Kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu mengulangi pertanyaannya dan kali ini sambil menatap Widya dengan lekat.

"Eeeng maksud pertanyaannya apa nih?" Widya balik bertanya sambil membalas tatapan Rindu dengan curiga.

"Engga ada maksud apa-apa. Iseng aja tanya. Jawab aja apa susahnya sih?!" Rindu memanyunkan bibirnya pura-pura ngambek.

"Iya..iya.... Kayaknya sih lebih suka penulis." Jawab Widya seadanya sambil mengaduk-aduk minumannya dengan santai.

"Kenapa?"

"Ya engga apa-apa. Iseng aja jawab gitu." Widya membalas kata-kata sahabatnya dengan raut wajah usil.

"Iiih nyebelin! Orang serius juga tanyanya." Kali ini Rindu benar-benar sewot dengan respon Widya. Selembar tisu yang diletakan rapi disamping piringnya pun melayang ke wajah manis sahabatnya.

"Hehehehe.... Ampun, just kidding kali sis." Widya semakin tertawa renyah karena berhasil memancing emosi Rindu.

"Lagian sejak kapan sih kamu jadi plin-plan gini? Tadi katanya iseng terus sekarang serius. Jadi yang bener yang mana?"

"Yaa... Iseng... tapi serius juga..." Rindu mendadak jadi salah tingkah di depan Widya.

"Haduh Riiin...! Kamu itu engga bakat bohong. Sudahlah terus terang aja. Kamu pasti lagi galau kan?"

"Engga kok... Ngapain juga ngegalauin yang belum jelas."

"Nah! Ketahuan kan!"

"Apanya?"

"Ya itu tadi. Pasti sekarang kamu lagi dideketin sama cowok yang engga jelas." Widya menebak dengan pede.

"Engga gitu Widya. Kamu kok bisa cepet banget sih ngambil kesimpulan?" Rindu menggelengkan kepala dengan heran.

"Kalau bukan cowoknya yang engga jelas...... berarti kamunya dong?!"

Rindu terdiam mendengar tudingan Widya yang semakin membuatnya yakin.

"Kamu jadi di ta'aruf-in sama guru ngaji kamu itu? Terus kabar cowok yang dikenalin sama kakak kamu kemarin gimana?" Widya bertanya penuh selidik.

Melihat ekspresi Rindu yang gelisah, akhirnya ia bisa memahami situasinya. Dan sekarang ia berpikir beberapa saat sebelum angkat bicara.

"Gitaris atau penulis ya? Menurutku better penulis lah. Penulis itu kan biasanya smart, romantis dan setia." Ujar Widya berteori.

"Memangnya gitaris engga?"

"Mungkin ada... tapi jarang. Kamu lihat aja tuh temen-temen SMA kita yang dulu gitaris band. Pada malas belajar dan sering gonta-ganti pacar kan?"

"Kayak si Bayu?" Rindu buru-buru menutup mulutnya. Ia keceplosan menyebut nama keramat itu.

"Biasa aja keleees. Aku sudah lama move on dari dia. Ngapain juga aku mikirin tukang selingkuh?"

Rindu tersenyum lega. Sebelumnya Widya selalu marah kalau mendengar nama Bayu disebut.

Sebenarnya Widya memang sempat sangat sakit hati atas perlakuan Bayu yang kepergok selingkuh berulang kali. Namun semenjak ia suka ikut-ikutan Rindu ke pengajian, sedikit demi sedikit ia menyadari kekeliruannya dalam hal berpacaran dan membuat mata hatinya semakin terbuka.

Setelah melihat Widya baik-baik saja, Rindu pun memberanikan diri melanjutkan surveinya.

"Tapi kalau si penulis ini usianya lebih muda gimana?"

"Maksud kamu brondong??!" Widya membelalakan matanya tak percaya.

"Cuma beda beberapa tahun kok..." Ujar Rindu seolah membela diri.

"Tetep aja kan brondong." Widya bertahan dalam pendiriannya dan membuat Rindu pasrah.

"So...? What do you think?" Rindu mendesak Widya memberikan pendapatnya.

Mendapati wajah Rindu yang bertambah galau, Widya pun menghela nafas panjang.

"Rindu sayaaang. Apa yang aku pikirin itu engga penting. Kamu itu harusnya denger kata hati kamu sendiri. Karena nanti yang menjalani itu semua adalah kamu. Mau dia gitaris atau penulis, mau lebih tua atau lebih muda, itu semua tergantung kamu. Pilih aja yang sesuai sama hati kamu. Simple kan?"

"Iya... Tapi aku juga masih belum yakin Wid. Darimana coba aku bisa tahu kalau orang itu sesuai atau engga sama aku?"

"Kalau itu kamu tanya aja sama Tuhan. Kan Tuhan Maha Tahu segalanya."

"Tanya sama Tuhan...?"

"Iya Tuhan. Tuhan yang nyiptain kita itu pastinya tahu juga dong apa yang sesuai untuk kita. Jadi kamu tanya aja sama Tuhan. Apa ya tuh namanya? Rasanya aku pernah denger deh di pengajian temen-temen kamu itu."

"Istikharah?"

"Yap itu dia. Istikharah!"

"Kalau setelah istikharah ternyata sama aja gimana?"

"Heem.. Kalau setelah ISTIKHARAH sama aja berarti kamu harus banyakin ISTIGHFAR Rin, biar engga galau terus-terusan."

"WIDYAAA!!!" Tanpa sadar Rindu meneriaki sahabatnya yang kini kembali cengengesan.

Sebelum mengomel lebih jauh Widya pun mencomot kentang goreng miliknya lalu menyuapkannya pada Rindu.

"Peace...." Widya memasang senyum lebarnya sambil mengibar-ngibarkan tisu yang tadi dilempar Rindu padanya.

"Keep calm and trust Allah. Kamu kan yang selalu bilang kayak gitu ke aku? Jadi engga ada alasan untuk pesimis. Tuhan pasti ngasih kamu jawaban dan jalan keluar terbaik."

Rindu tertegun dengan pernyataan sahabatnya. Semua itu memang benar. Tak seharusnya kita ragu setelah mengaku beriman.

"Masyaallah Widya.. Makasih ya sudah ngingatin aku."

"With pleasure sis."

"Tapi darimana kamu belajar ngomong bijak kayak gitu?"

"Dari seorang sahabat yang sedang merindukan belahan jiwanya. Semoga aja kerinduan dia segera terobati."

"AAMIIN." Pekik Rindu dan Widya bersamaan.

Dua sejoli itu akhirnya tertawa bahagia dan melanjutkan menikmati sore mereka yang teduh di bawah langit kota Banjarbaru.

Cerpen by dhini iffansyah

Sabtu, 02 Januari 2016

Diantara Kemungkinan, Keyakinan dan Harapan.

Waktunya mungkin akan segera tiba, tapi...
Entah harus bagaimana lagi untuk bisa membangun keyakinan itu.

Ragu masih membayangiku.

Rasa khawatir yang berkembang menjadi rasa takut akan ketidakpastian masa depan.

Ya Tuhan...

Aku tak tahu, sedang Engkau Maha Tahu. Jadi beritahulah aku dengan cara-Mu. Yakni cara terindah yang menentramkanku.

Jangan sampai diri ini terombang-ambing dalam prasangka yang tak menentu.

Jangan biarkan hati ini berhasrat akan sesuatu yang tak ditakdirkan untukku.

Tuntunlah aku hanya ke jalan surga-Mu. Meski itu adalah jalan terjal dan berliku.

(dhini iffansyah)