Tampilkan postingan dengan label Dakwah is My Way. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah is My Way. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Juli 2016

Jejak Hijrahku

Mengapa Allah memilihku ?

Pertanyaan ini mulai terbesit kembali. Semakin ditelusuri, semakin aku yakin bahwa ini semua benar-benar kuasa Illahi.

Tahun 2008 silam, berkat paksaan ibu akhirnya ku putuskan berhijab. Hanya hijab ala kadarnya. Bukan dengan kerudung lebar seperti yang biasa ku pakai sekarang. Rok dan gamis pun hanya kadang-kadang ku kenakan. Terlebih lagi kaos kaki dan deker pergelangan tangan. Semua perlengkapan itu tampak begitu merepotkan.

Sebenarnya jauh sebelum diterima di perguruan tinggi, aku sudah merencanakan untuk menjadi wartawan koran kampus BESTARI. Saat itu aku memang sangat berminat pada bidang jurnalistik dan kepenulisan. Namun Tuhan memiliki rencana lain.

Tiba-tiba aku mendapat ide untuk mencari komunitas muslim dan bergabung bersama mereka. Padahal dulu saat masih SMA, diajak pengajian pun hanya senyum-senyum saja, aku sama sekali tidak tertarik apalagi tergerak untuk melangkahkan kaki kesana.

Mungkin karena hidup merantau jauh dari keluarga membuatku merasa sepi dan hampa. Aku merindukan suasana rumah. Rumah yang bisa membuatku nyaman dan aman berada di dalamnya. Dengan mudah aku temukan semua itu pada diri mereka, orang-orang shalih yang terlihat begitu menjaga dan terjaga. Walau sepenuhnya sadar bahwa aku berbeda, aku tetap ingin ada diantara mereka.

Nama rumah itu adalah Lingkar Psikologi Asy-Syifa' atau lebih akrab disebut LISFA. Sebuah lembaga semi otonom bidang kerohanian islam di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Aku mulai menaruh perhatian pada LISFA bukan pada saat PESMABA (Pengenalan Studi Mahasiswa Baru), melainkan saat seorang ukhti mempromosikan LDL (Latihan Dasar LISFA) ke ruang kelas kami, F class 2008. Penampilannya sederhana tapi memesona. Senyum ceria dan bersahabat terpancar jelas diwajahnya. Dari sanalah aku semakin mantap untuk mendaftarkan diri dan mengikuti rekrutmen LISFA yang diadakan selama dua hari, satu malam.

Ketika malam tiba, seorang akhi menjelaskan sesuatu kepada kami. Beliau berkata, "Siapa yang tidak kenal dengan Thomas Alva Edison ? Pada malam hari ini kita dapat berkumpul dengan keadaan terang benderang karena seorang Edison yang telah menemukan bola lampu. Bayangkan! begitu populernya Thomas Alva Edison, begitu luar biasa kecerdasan dan jasanya bagi milyaran manusia di dunia. Namun dengan semua itu, ketika ia wafat tetap tak bisa masuk surga."

Deg!

Barangkali itu adalah saat pertama aku mulai menyadari hakikat iman di hati. Sungguh berharga keimanan yang telah diwariskan oleh orangtuaku ini.

Seusai LDL, aku pun mulai berkenalan dengan mentoring islam. Mentoring ini diadakan sepekan sekali bersama dengan seorang mentor dan beberapa akhawat lainnya.

Sosok mentor pertamaku juga amat mengesankan. Anggun, cerdas dan shalihah! Tutur katanya lembut ditambah dengan senyuman tulus yang selalu menghiasi paras cantiknya meski tanpa make up. Darinya aku mulai belajar tentang apa itu ukhuwah islamiyah.

Hari-hari bersama dengan LISFA memang tak selalu manis. Memang begitulah resiko menjadi aktivis. Namun ajaibnya aku tetap bertahan disana. Ada saja "sebab" yang terjadi hingga niat untuk pergi selalu diurungkan berulang kali.

Akhirnya yang ku lakukan adalah mencoba menikmati setiap peran yang diamanahi. Mulai dari magang di Departemen Public Relation, kemudian menjadi Sekretaris lalu Ketua di Departemen Study Research, dilanjutkan sebagai Sekretaris Umum, Bendahara Umum, dan terakhir sebagai salah satu anggota di Majelis Pertimbangan Organisasi.

Masyaallah. Pengalaman 4 tahun yang sungguh luar biasa dan tak mampu ku goreskan dengan kata-kata. Bersama mereka ku temukan mutiara hikmah kehidupan. Mereka menjadi saksi sekaligus teman dalam perjalanan hijrahku. Dan ku rasa inilah jawabannya. Alasan mengapa Allah memilihku berjuang bersama mereka.

"....Ketika kita belum mampu menjadi orang baik, setidaknya jangan membenci orang-orang baik. Justeru bertemanlah dengan mereka, karena berteman dengan orang baik insyaallah akan memberi kita banyak kebaikan."

Riszky Adhini Rachmi - Alumna LISFA angkatan 2008.

Nb: Terimakasih LISFA! Semoga semakin eksis dan istiqomah menebar kebaikan. Love you cause Allah ikhwah fillah! Salam ceria dan bersahabat. :)

Selasa, 05 Mei 2015

Pelacur Dapat Sertifikasi di Indonesia ?

Walaupun agak malas membahasnya tapi lama-lama panas juga.

Setelah media setia memberitakannya berulang kali.

Setelah keluar statement dari seorang perempuan berkerudung yang bersepakat tentang lokalisasi prostitusi.

Setelah Ahok bilang, "Kita jangan munafik." (Kita?)

Setelah aktivis Komnas Perempuan turut mendukung sertifikasi dalam misi melindungi para pelacur itu dari tindak kekerasan/pembunuhan.

Wow. Luar biasa. Inikah yang disebut Revolusi Mental ?

Dari kalangan masyarakat biasa, aktivis bahkan pemerintah bersepakat meng-halal-kan profesi dan bisnis pelacuran.

Dengan berbagai dalih berupaya mencari pembenaran.

Tunggu saja sampai kita semua berada dihadapan Tuhan, masih adakah lagi yang berani mengucap omong kosong tentang "manfaat" legalisasi prostitusi serta pemberian sertifikasi ?

Pelacur itu tidak butuh sertifikasi. Mereka butuh bertaubat sebelum kematian itu menjemput dalam lumur maksiat.

Bagi yang masih waras akal sehat, hati nurani dan imannya, jangan dukung mereka dalam dosa. Bantu mereka menjadi manusia mulia, beretika dan taat beragama.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu dekati zina. Karena zina itu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan.
(QS. Al Isra': 22)

(dhini iffansyah)

Minggu, 08 Februari 2015

Belajar dari Hud-Hud

Masih ingat cerita tentang Nabi Sulaiman dan Burung Hud-Hud ?

Kawan-kawan mungkin sudah hafal betul dengan ceritanya yang sering di dengar maupun di baca dalam Al-Qur'an.

Namun hari ini saya temukan makna kisah yang lebih luas dan mendalam dari seorang ustadz yang tampilannya tidak seperti ustadz-ustadz pada umumnya. :)

Penampilan ustadz sangat santai dan sederhana, tapi ketika sudah berbicara maka tampaklah bahwa beliau memang seorang yang berilmu dan paham tentang agamanya.

Beliau menyampaikan kembali cerita Nabi Sulaiman dan Burung Hud-Hud dalam berbagai perspektif yang menyimpan ibrah luar biasa.

Dimana burung Hud-Hud yang "hanyalah" seekor burung dapat memiliki kontribusi luar biasa dalam dakwah.

Kesadaran akan keterbatasan diri bukanlah suatu hambatan bagi burung Hud-Hud untuk menegakan kalimat Allah.

Dengan informasi yang akurat, burung Hud-Hud datang menghadap Nabi Sulaiman dan akhirnya tercetuslah awal mula mega proyek dakwah untuk mengislamkan negeri Saba.

Masyaallah...

Rasakanlah keindahan amal jama'i yang sedang Allah ajarkan kepada kita.

Masing-masing makhluk memiliki potensi dan dapat berkontribusi dalam dakwah.

Ya, meskipun hanya seekor burung !

Bagaimana Allah memperlihatkan bahwa Hud-Hud pun ternyata bisa memiliki kelebihan, dengan mengetahui sesuatu yang bahkan seorang Nabi Sulaiman pun tak tahu sebelumnya.

Maka sesungguhnya di dalam jama'ah ini, siapapun dia, apapun posisi dan perannya, tiada seorangpun yang pantas rendah diri dan dipandang sebelah mata.

Kita semua beramal jama'i dalam memperoleh ridho illahi. Masing-masing berada dalam barisan dan mengokohkannya. Peran besar maupun peran kecil semua tetap berganjar surga.

Wallahu'alam. Semoga bermanfaat.

(dhini iffansyah)

Kamis, 27 November 2014

Tuhan, buatlah aku jatuh cinta..

Sudah mendekati waktu syuro sore ini. Aku pun bersiap-siap berangkat 30 menit sebelumnya agar tak terlambat.

Menyusuri jalan menuju depan gerbang, langkah kaki ku mulai terasa berat. Saat ku temukan angkot dan duduk di dalamnya, hatiku terasa sesak ingin menangis.

Astaghfirullah... aku tak bisa membohongi diri sendiri, aku tak ingin pergi ke pertemuan itu.

Ku coba menghibur hati dengan mengulang-ulang satu ayat di pikiranku.

"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."
(QS. At-Taubah: 41)

Syuro ini memang telah direncanakan jauh hari. Namun aku selalu berharap akan dibatalkan.

Mengapa?

Karena aku tak menyukainya. Aku tak menyukai qiyadah kami yang baru.

Perilakunya membuatku gerah.
Ku rasakan pahit saat dia menyapa dan tersenyum.
Bahkan begitu malas mendengar  dia berbicara.

Ketika dia memaparkan sesuatu di dalam forum, aku lebih suka bermain dengan gadget ku. Membaca info yang di kirim via grup whatsapp, membalas bbm, browsing di instagram, apa saja... karena aku tak tertarik dengan apapun yang dia katakan.

Berkali-kali ku lihat jam tangan. Waktu terasa melambat. Aku ingin syuro ini cepat selesai.

Ingatanku terbang melintasi waktu saat ku menghadiri syuro yang di agendakan oleh qiyadah ku terdahulu.

Waktu itu aku pun hampir menangis.

Bukan karena tak suka, tapi karena cinta.

Aku belajar mencintai dakwah darinya. Mencintai karena Allah. Aku merasa amat bersalah dan hampir menangis saat dia menasehatiku. Aku mencintai qiyadahku dengan segala keteladanan yang ia berikan.

Ya Rabb...

Hamba ingin merasakan jatuh cinta lagi.

Jatuh cinta pada qiyadah agar nyaman saat berjama'ah dan senang hati menunaikan amanah.

Aku tahu tak semestinya begini...
Aku tahu harus tsiqoh...

Ketika ku curahkan dengan seorang saudara tentang kegalauan hati saat itu, ia pun mengingatkan ku.

"Jangan begitu ukhti. Ingat, ketaatan pada qiyadah adalah bagian dari ketaatan pada Allah."

Allah berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
(QS. An-Nisa: 59)

Heem... iya, memang benar.. dan memang itu adalah satu-satunya motivasi ku bertahan hingga detik ini. Aku barangkali "terpaksa" mentaatinya karena Allah yang menyuruhku dalam ayatNya.

Aku masih mentaati qiyadah ku karena memang begitulah seharusnya. Tapi sekali lagi tiada cinta disana. Hingga dakwah ini jauh lebih berat terasa dibandingkan sebelumnya.

Tak tahu sampai kapan harus begini.
Semoga rasa ini segera berganti.

(dhini iffansyah)

Note: Begitulah tabiat dakwah. Jalannya mendaki lagi sukar. Ujian menerpa dari arah mana saja. Baik dari diri sendiri maupun orang lain.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3)

Bertahanlah walau tak suka, sebab..

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 216)

Wallahu'alam bishowab. Semoga bermanfaat.


Minggu, 16 November 2014

Never ending Halaqah

Halaqah...

Alhamdulillah sudah kurang lebih 6 tahun aku berada dalam lingkaran ini.

Bagaimana rasanya?

LUAR BIASA

Tetesan ilmu telah ku teguk lewat pesan hikmah sang murobbi dan para akhawat shalihah.

Di awal masa halaqah, aku pernah merasakan hadir seorang diri. Kajian yang hanya diadakan sepekan sekali ini pun ternyata masih mampu memunculkan berbagai alasan untuk tidak hadir.

Tapi percayalah, aku tidak kecewa karena ku lihat sang murobbi pun tetap setia memberikan ilmunya padaku.

Begitu sabarnya beliau menuntunku pada kebaikan. Aku yang mulanya begitu awam terhadap persoalan agama, sedikit demi sedikit mulai merasakan hangatnya cahaya islam dan iman melalui lisannya.

Masyaa Allah...

Terlintas pertanyaan, apa untungnya baginya? Setiap pekan menyempatkan waktu untuk bertemu, memberikan ilmu dan menasehatiku, bahkan ia pun tak segan untuk mentraktir disaat-saat tertentu.

Di lingkaran ini...

Aku tak pernah sekalipun dipaksa. Perubahan yang terjadi setelahnya insyaallah murni karena keputusan pribadiku.

Murobbi tak pernah menuntutku mengikutinya, dia hanya memberitahu. Aku mau ikut atau tidak, merupakan pilihan bukan paksaan.

Di lingkaran ini...

Untuk pertama kalinya aku berkenalan dengan ukhuwah islamiyah. Ukhuwah yang sejatinya benar-benar indah.

Beda latar belakang, beda hobi, beda kesukaan, beda suku dan budaya. Beda dalam segala hal kecuali aqidah. Cukuplah aqidah yang menyatukan kami duduk dalam satu halaqah.

Baru pertama bertemu tapi langsung bisa akrab. Ku rasakan penerimaan yang begitu besar dari mereka. Sama sekali tak memandang harta maupun tahta. Hanya diriku apa adanya sebagai saudari mereka.

Saling mengingatkan dan saling membantu satu sama lain.
Itulah ukhuwah, cinta sederhana yang penuh makna.

Di lingkaran ini...

Tak sekali atau dua kali, ku dengarkan kalimatul murobbi yang sangat berkesan di hati karena begitu sesuai dengan kondisi diri.

Semua ilmu yang menyegarkan dan menyejukkan melalui madah, kultum, maupun bedah buku yang disampaikan.

Halaqah seumpama telaga yang airnya tak pernah surut untuk menghilangkan dahaga siapa saja.

Di lingkaran ini...

Setiap pekan kami terbiasa untuk melakukan mutaba'ah amal yaumi, tahfidz atau sekedar muroja'ah Al-Qur'an.

Semua catatan itu, ternyata sukses memotivasi hidupku. Memperbaiki kualitas ibadah, meningkatkan amalan sunnah hingga menambah hafalan surah.

Benarlah kata Umar bin Khattab,
"Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab dirinya di dunia."

Di lingkaran ini...

Halaqah bukan lagi lingkaran biasa.

Disana ada inspirasi..
Ada motivasi..
Ada nasehat..
Ada semangat..
Ada persaudaraan..
Ada perhatian..
Ada canda tawa..
Ada senyum bahagia..

Dan yang terpenting, ku temukan setitik cahaya-Nya disana.

(dhini iffansyah)

Kamis, 24 Juli 2014

Ujian Ramadhan

Mungkin Allah sengaja memberikan kekalahan yang pahit bagi kita. Agar kelak kita benar-benar dapat mensyukuri kemenangan besar yang telah Allah persiapkan.

Laa Tahzan...

Kemenangan atau kekalahan... Pastikan saja kita berada pada jalan kebenaran. Sebab kekalahan di jalan Allah lebih mulia dibanding kemenangan dalam kezaliman.

Walau selalu saja ada orang yang bangga dengan kemungkarannya... 

Dan janganlah engkau mengira, bahwa Allah lengah dari apa yang diperbuat oleh orang yang zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak. (QS. Ibrahim:42)

(dhini iffansyah)



Jumat, 11 April 2014

Catatan Anak Negeri

Ayo Bersama Kobarkan Semangat Indonesia !
Para pejuang tidak MENUNGGU keajaiban datang.... mereka BERJUANG membuat keajaiban dalam perubahan yang tak henti diperjuangkan.

Para pejuang tidak mengharap impian besar itu suatu saat akan DIHADIAHKAN... mereka BERGERAK melakukan kewajiban ber-amar ma'ruf nahi munkar demi mencapai hak yang telah dijanjikan.

Bagaimana mungkin negeri ini bisa menyongsong masa depan yang lebih baik...?

Bila orang-orang baik MENOLAK untuk masuk dalam pemerintahannya... bahkan untuk sekedar berpartisipasi memilih pemimpin yang terbaik saja masih ada yang ogah-ogahan bahkan mengharamkan.

Masuk dalam logika yang mana?

Ketika kita MEMBIARKAN pemerintahan diisi dengan orang-orang yang tidak baik kemudian kita MENUNTUT undang-undang/ peraturan/ kebijakan yang baik dan mengharapkan kondisi ekonomi-politik-sosial-budaya-pertahanan-keamanan-pendidikan-kesehatan-hukum yang baik.

Tengoklah sejarah negeri ini kawan... kemerdekaan Indonesia bukanlah HADIAH dari para penjajah. Melainkan hasil JERIH PAYAH pengorbanan para pejuang.

Lantas, dimana jerih payah kita sebagai generasi penerusnya?

Jangan hanya bisa MENGHUJAT PEMERINTAHAN yang dianggap bobrok dan gagal. Bukankah itu terjadi karena kita yang MEMBIARKAN orang-orang itu memimpin negeri ini, sementara kita hanya duduk dan BERHARAP KEBAIKAN tanpa mau bersusah payah MEMPERJUANGKAN KEBAIKAN.


(dhini iffansyah)



Sabtu, 22 Maret 2014

Renungan Aktivis Dakwah

Seringkali kita terjebak oleh pikiran dan perasaan kita sendiri. Merasa telah banyak memberi dan berkorban besar untuk dakwah ini. Padahal apa yang telah diberikan hanyalah "pengorbanan ecek-ecek" bila dibandingkan dengan yang telah dilakukan oleh saudara-saudari kita, para pendahulu kita, para ulama, para sahabat, terlebih para nabi dan rasul.

Tak merasa malukah kita? terus-menerus mengeluh, merengek, dan mengumbar ketidakberdayaan. Seolah Allah tak sanggup lagi membantu dan memenangkan dakwah ini.


Tak merasa risihkah kita? sekian lama kufur dengan nikmat begitu besar yang telah Allah berikan. Nikmat yang sampai kapanpun tak akan pernah sanggup kita menghitungnya. Benar-benar tak sebanding dengan kontribusi kita untuk menengakkan agamaNya.


Sakit yang kita rasakan di jalan dakwah bukanlah hal yang patut kita sesali, justru harus kita syukuri, karena Allah telah menghindarkan kita dari berbagai penyakit dunia yang menjangkiti kaum kafir dan munafik.


Sudah lupakah kita dengan kisah Bilal bin Rabah yang disiksa dengan siksaan begitu pedih. Namun ia tetap teguh mengatakan "Ahadun Ahad !!!"


Begitu pula yang terjadi dengan Asiyah binti Muzahim, yang menukar harta dan tahta dunia demi mempertahankan keimanannya. Dan lihatlah, Asiyah justru tertawa ketika berada dalam siksaan keji suaminya, Firaun.


Inilah kisah yang menekankan bahwa siapapun kita, laki-laki atau perempuan, budak atau kalangan bangsawan, memiliki kesempatan dan kewajiban yang sama untuk beriman dengan sebenar-benar iman. Bukan hanya dilisan tanpa adanya pembuktian.

Keimanan yang tertancap kokoh, bahwa rasa sakit dan penderitaan itu bukanlah apa-apa. Keimanan bahwa Allah tak akan pernah menyia-nyiakan mereka. Dan pengorbanan itu kelak akan dibalas dengan sebaik-baik pembalasan, berkali lipat dari yang mereka harapkan.


Demi Dzat, yang jiwaku ada ditanganNya.
Sungguh, bila kita tidak disibukan oleh kebaikan, maka kita pasti akan disibukan oleh selain kebaikan.
Bila kita tidak bergabung dalam barisan dakwah, maka kita pasti akan bergabung dalam barisan selainnya.
Bila kita tidak mengejar akhirat, maka kita pasti akan terlena oleh urusan dunia.
Padahal kita tahu, bukan untuk itu tujuan manusia dicipta.

wallahu a'lam bishowab... semoga bermanfaat.


(dhini iffansyah)


Jumat, 17 Januari 2014

Cerita Dibalik Banjir Banjarbaru

Pertama kalinya selama saya tinggal di kota ini semenjak tahun 1999... Banjarbaru pun ternyata tak luput dari musibah Banjir. Bencana ini cepat datang dan cepat berlalu... namun ada 1 kisah yang ingin saya bagikan pada sahabat semua. Semoga menginspirasi... 

***
Kamis, 9 Januari 2014

Pagi itu sebagian kota terendam banjir. Hujan lebat yang mengguyur dari tengah malam telah membuat suasana kota jauh berbeda. Berbagai aktivitas warga pun secara otomatis menjadi terhambat.



Segera handphone para aktivis lembaga dakwah di Banjarbaru berdering, tanda ada sebuah SMS masuk, isinya adalah taklimat (himbauan) untuk segera turun membantu para korban banjir dilokasi yang terbilang parah.

Bantuan berupa makanan dan pakaian pun segera disalurkan. Tidak hanya dari kalangan ikhwan (laki-laki) tapi juga dari kalangan akhawat (perempuan) pun ikut serta terjun ke lokasi banjir yang di informasikan.

Belum tampak bantuan dari lembaga/institusi lain disana...
Hanya ada ikhwan dan akhawat aktivis dakwah, masya Allah...

Sampai ada warga yang mengatakan pada salah seorang ukhti (saudari saya) bahwa sekarang ia tidak memiliki alas kaki lagi karena hanyut terbawa banjir.

Seketika itu juga ukhti itu melepaskan sepasang sandal yang ia kenakan dan memberikannya kepada warga tadi. Alhasil dia sibuk kesana-kemari hanya dengan mengenakan kaos kaki.

Akhawat pun terheran-heran dan bertanya tentang keberadaan sandalnya... dengan santai ukhti itu pun menjawab, "Tadi sudah dikasihkan ke warga yang engga punya sandal."

Yaa Rabb,,,,

Itu memang hanya sepasang sandal.....
Tapi saksikanlah bagaimana dalam kondisi sulit waktu itu betapa alas kaki yang layak juga ia butuhkan. Semua seolah tak lagi ia hiraukan demi menyambut kesempatan untuk beramal.

Kesungguhannya dalam membantu mengingatkan kami semua......

JEMPUTLAH PELUANG KEBAIKAN ITU DENGAN RIANG GEMBIRA, BUKAN DENGAN KELUH KESAH.

Karena Allah lah yang menyuruh kita untuk beramar ma'ruf nahi munkar..... maka sudah pasti Allah pula yang akan menolong dan meneguhkan kedudukan kita. Insyaa Allah. 


(dhini iffansyah)






Sabtu, 05 Oktober 2013

Yuk Liqo !


Pengalaman ikut Liqo‬ itu luar biasa..... ketika seorang muslim bertemu dengan muslim lainnya dengan niat bersilaturahim sekaligus menambah tsaqafah islamiyah mereka.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh Para Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)

“Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan menjadikannya mengerti tentang (urusan) agamanya.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Al-Baghawi, Ibnu ‘Abdil Barr dan Ath-Thahawi)

Masya Allah... :)

Kamis, 12 September 2013

Bagiku, beginilah Cinta yang seharusnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Demi Dzat.. yang jiwaku ada ditanganNya...

Beliau bisa saja memilih profesi yang lebih baik, lebih terpandang dan lebih banyak menghasilkan uang.
Tapi bukan itu yang dicita-citakannya.

Beliau bisa saja tak menghiraukan dakwah ini, hanya mengurusi kepentingan dirinya dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya.
Tapi bukan itu yang membahagiakan jiwanya.

Beliau bisa saja menyatakan sudah lelah, telah berupaya namun kini lebih baik menyerah,  karena bertahun-tahun mencoba tetap tak ada yang berubah.
Tapi bukan itu yang dilakukannya.

Guru Agama dengan status Honorer... itulah profesi yang beliau pilih. Sebuah pekerjaan yang mungkin tidak diperhitungkan oleh sebagian besar orang. Namun bagi beliau pekerjaan itu diimpikan dan diperjuangkan.

Bukan dalam rangka menyesuaikan dengan bakat atau minat pribadi,
sebab beliau bukanlah seorang sarjana pendidikan (S.Pd) maupun seorang sarjana agama (S.Ag), melainkan seorang sarjana komputer (S.Kom) !

Bukan juga karena honor yang bisa diterimanya,
sebab honor itu tentu tak seberapa nilainya apalagi bila dibandingkan dengan banyaknya jumlah jam mengajar yang dibebankan pada beliau.

Lantas mengapa harus Guru Agama? dan mengapa honorer?

Ternyata sederhana... karena dengan menjadi guru agama, beliau bisa lebih banyak berperan dalam kegiatan keislaman di sekolah sekaligus memajukan Rohis yang ada disana. Sedangkan dengan status honorer, beliau bisa tenang dan fokus menguatkan dakwah di satu sekolah, tanpa ada kekhawatiran sewaktu-waktu akan dimutasi ke sekolah lain. Sebuah resiko yang seringkali dialami oleh guru yang berstatus PNS.

Masyaallah...

Cerita ini nyata tanpa rekayasa. Perjuangan seorang muslim dalam menegakan kalimat Tuhannya. Barangkali kecil dihadapan manusia, namun besar dihadapanNya.

Bagaimana dengan kita? Apakah yang sudah kita lakukan dan korbankan demi Agama ini?

Semoga masih ada cukup waktu yang tersisa bagi kita untuk membuktikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ


Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah & Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, & kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib & yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yg telah kamu kerjakan. (At-Taubah: 105)

Sabtu, 07 September 2013

Tarbiyah, I'm in Love



Aku menyayangi mereka... 
walau berbeda masa dan usia,
walau berbeda asal suku dan budaya,
walau berbeda karakter dan pembawaannya.

Aku menyayangi mereka...
bahkan ketika orang lain menghina dan merendahkan,
bahkan ketika orang lain memfitnah tanpa perasaan,
bahkan ketika orang lain berupaya untuk menjatuhkan.

Aku menyayangi mereka...
bukan karena harta atau materi,
bukan karena gelar bergengsi,
bukan pula karena kedudukan yang dihormati.

Aku menyayangi mereka...
sebab mereka mengajak ku pada kebaikan,
sebab mereka mengingatkan ku dalam ketaatan,
sebab mereka menasehati ku dengan kesabaran.

Aku menyayangi mereka…
dengan segenap perhatian dan kepedulian,
dengan prasangka baik yang diutamakan,
hingga dengan doa yang senantiasa dipanjatkan.

Aku menyayangi mereka…
dan ketika saatnya tiba, biarlah aku dan mereka berpisah dalam hangatnya balutan ukhuwah
sampai kelak Allah mempertemukan kembali… di taman surgaNya yang indah
aamiin :')

(dhini iffansyah)

Sabtu, 13 Juli 2013

Jangan Korbankan Dakwah Ini




Bila hati tidak lapang,, pikiranpun akan sempit dalam memandang..

Bukanlah akal itu yang kurang cerdas, melainkan hati yang tidak bisa ikhlas..

Cukuplah kelakuan kalian menjadi bukti, bahwa sebagus apapun potensi yang dimiliki... 

Tidak akan berarti bila niat lillahita'ala tidak menyertai.

Lantas... Siapakah yg sepatutnya kalian benci? Jama'ah ini ataukah diri kalian sendiri. Mari sama2 introspeksi....


(dhini iffansyah)



Senin, 12 November 2012

Semua Karena-Nya


Memang begitulah bila ikhlas tidak menghiasi hati
Akan mudah ia tersakiti bahkan merasa selalu terzalimi

Padahal bila ia paham dengan maksud dari dakwah ini
Kekecewaan apapun akan segera terobati
Tetap bersemangat dan terus berkontribusi

Karena ia bekerja atas dasar perintah Allah.. untuk keridhoan Allah.. dan semuanya akan dikembalikan lagi pada Allah.

Sungguh Allah Mahatahu lagi Mahateliti dengan apa yang kita kerjakan…

Tidaklah semua yang kita lakukan itu berlalu sia-sia, 
melainkan Dia pasti akan memberi balasannya.

(dhini iffansyah)


Jumat, 02 November 2012

Untuk Lisfa (Lingkar Psikologi Asy-Syifa')

Lisfa.... mungkin waktuku sudah tak banyak untuk bersamamu,
terimakasih untuk semua pengalaman luar biasa yang mengubah hidupku menjadi lebih bermakna...
darimu aku menjadi lebih mengenal Allah Yang Maha Rahman, merasakan indahnya persaudaraan berlandaskan keimanan, dan belajar memahami perjuangan menegakkan risalah islam.

Lisfa.... memang tak banyak yang bisa ku berikan,
bahkan kesalahan telah berulang kali ku lakukan.... semoga dirimu dan Allah berkenan memaafkan.

Lisfa.... setelah ini mungkin aku pun akan segera terlupakan,
tapi biarkan memori tentangmu selalu ku kenang.... sebagai kado terindah yang ku peroleh dari kota Malang :)