Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Sahabat Alya

"Ada apa dengan wajahmu pagi ini Alya? Mengapa nampak mendung disaat cuaca di luar begitu cerah?"

Alya yang tengah menatap dirinya sendiri di cermin hanya terdiam menanggapi pertanyaan Ayla, teman bayangannya.

"Hei! Jangan diam saja. Ayo ceritakan padaku." Ujar Ayla memaksa.

"Bukankah seharusnya kau sudah tahu?" Alya menjawab dengan dingin.

"Tentu aku tahu. Aku juga tahu kalau semalaman kau tidak bisa tidur karena masalah itu."

"Lalu untuk apalagi kau bertanya Ayla? Apa sekarang kau mau ikut-ikutan berbasa-basi seperti mereka?"

"Tentu saja tidak. Aku bertanya agar kau bisa mulai bercerita. Karena itulah yang kau butuhkan sekarang."

Mendengar itu Alya seketika menitikan air mata. Entah sejak kapan ia mulai "bersahabat" dengan Ayla, yang jelas itu sudah sangat lama. Alya yang dari kecil selalu merasa kesepian dan diabaikan, hanya bisa mengandalkan Ayla untuk mendengarkan keluh kesahnya. Selama ini Ayla yang selalu ada untuknya.

"Bukankah terlalu awal untuk menangis? Tapi sudahlah, aku tahu itu akan membuat perasaanmu lebih baik. Iya kan?"

"Kali ini tidak..."

"Benarkah?"

"Iya. Rasanya aku ingin muntah. Aku muak dengan sandiwara keluarga bahagia ini. Aku hanya pura-pura bahagia sama seperti mereka."

"Ku kira selama ini mereka hanya sibuk. Apa kau mau mengatakan kalau kesibukan itu juga pura-pura?"

"Bukan tentang kesibukannya, tapi tentang cara mereka memanfaatkan semua itu untuk menyisihkanku. Sebab mereka memang tidak peduli apalagi menyayangiku. Mereka lebih menyukai kesibukan itu daripada aku."

"Tapi mereka selalu ingat hari ulang tahunmu kan Alya. Bukankah kamu selalu senang ketika merayakannya bersama mereka?"

"Iya. Setahun sekali. Hanya setahun sekali. Lalu bagaimana dengan 364 hari lainnya?"

"Setidaknya kamu mendapatkan kado mahal yang memang tidak mungkin dibeli setiap hari kan?"

Alya menggeleng. "Hal yang paling membuatku senang adalah bisa bersama mereka seperti layaknya keluarga. Setiap tahun aku hanya mengharapkan kebersamaan itu bisa terjadi lebih lama dan lebih sering."

"Aku masih beranggapan kalau mereka tidak seburuk itu. Hanya saja sikap mereka memang belum sesuai dengan harapanmu."

"Maksudmu harapanku terlalu berlebihan?"

Ayla terdiam.

"SEORANG ANAK BERHARAP DITANYA TENTANG PERASAANNYA DAN DIDENGARKAN PENDAPATNYA OLEH IBU KANDUNGNYA SENDIRI, APA ITU SUNGGUH BERLEBIHAN??!" Suara Alya terdengar lebih nyaring dan bergetar. Mukanya yang semula putih pucat sekarang berubah merah.

"Tenanglah... Apa kau tidak melihat wajahmu sangat jelek kalau sedang marah?"

Sekarang giliran Alya yang terdiam oleh teguran Ayla.

"Aku tahu harapan dan keinginanmu sangatlah sederhana. Tapi bukankah kau sudah mampu mengatasi keadaan ini selama 25 tahun? Hatimu sudah terlatih. Kau hanya perlu bertahan lebih lama lagi."

"Ayla... Apakah Tuhan memang menciptakan hati untuk terus disakiti?"

"Lebih tepatnya Tuhan ingin kita tahu nikmatnya bersabar dan memaafkan." Ujar Ayla dengan senyuman yang juga mengembang diwajah Alya.

"Terimakasih. Aku selalu bisa mempercayaimu."

"Kau tahu? Kau juga bisa mempercayai orang lain. Mulailah dengan membuka hatimu. Bertemanlah dengan orang-orang baik. Akan jauh lebih menyenangkan berbincang dengan teman-teman baru ketimbang menghabiskan waktumu disini."

"Apa kau mulai lelah mendengarkanku..?"

"Aku hanya bayangan. Aku tidak pernah merasa lelah. Datanglah padaku bila kau butuh merefleksikan diri, tapi hiduplah sebagaimana orang hidup. Hiduplah dalam kenyataan. Hadapi kenyataan itu walau sesulit apapun. Karena kesulitan itulah yang membuatmu kuat. Cukup kuat untuk menampung kebahagiaan setelahnya."

Setelah mengatakan itu secara perlahan bayangan Ayla memudar dan hilang sama sekali. Kini Alya hanya melihat bayangan dirinya di cermin. Meski sebenarnya Ayla tak pernah benar-benar pergi.

(dhini iffansyah)

Rabu, 23 Maret 2016

Khitbah (Pinangan)

Bismillah. Rindu, mohon maaf sebelumnya, apakah sekarang kamu sedang dalam keadaan dikhitbah orang lain?

Rindu tercenung setelah membaca sebuah SMS pagi ini. Sebelumnya ia tak menyangka bahwa apa yang dulu diwanti-wanti oleh teman halaqahnya benar-benar akan terjadi padanya.

Ukhti Nahda pernah bercerita pada Rindu tentang proses pernikahannya. Bagaimana pertama kali ia bisa bertemu sang calon suami lalu dilanjutkan dengan ta'aruf, khitbah dan persiapan akad nikah. Setiap proses itu memang tak selalu mudah. Namun ada satu poin penting yang disampaikan ukhti Nahda waktu itu, yakni saat proses menuju akad nikah. Walaupun saat itu restu sudah didapatkan dan tanggal pun telah ditetapkan, bukan berarti jalan selanjutnya akan menjadi bebas hambatan. Pada kenyataannya ujian pada masa itu melebihi proses-proses sebelumnya. Sebab kali ini yang diuji adalah kemantapan hati.

Ukhti Nahda kemudian memaparkan kisah mengenai orang dari "masa lalu" hingga orang baru yang seperti tiba-tiba saja bermunculan. Bahkan bisa saja salah satu diantara mereka adalah seseorang yang sebenarnya telah lama diharapkan. Lantas bagaimana? Tidak bisa menerima namun juga berat untuk menolak. Dan itulah ujian akhir sesungguhnya menuju janji suci pernikahan.

Sebagai muslimah kita tidak boleh terombang-ambing dalam perasaan. Tegaslah pada diri sendiri dan siapapun yang mencoba goyahkan iman. Ingatlah, ikatan khitbah bukanlah ikatan sembarangan yang seenaknya bisa diputuskan. Disana ada komitmen yang harus diperjuangkan dan ukhuwah yang wajib diselamatkan. 

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang lelaki (muslim) tidak boleh meminang (wanita) yang telah dipinang lelaki (muslim) lain, sampai lelaki pertama membatalkan pinangannya atau dia mengizinkan lelaki kedua (untuk meminang si wanita).”

*Hikmah syariat ini adalah menihilkan permusuhan dan kemarahan yang bisa menyebabkan satu pihak menganggap dirinya suci dan mencela pihak lain. Padahal menganggap suci diri sendiri adalah tindakan tercela. Ibnu ‘Abidin (yang merupakan salah seorang ulama fikih Mazhab Hanafi) mengatakan bahwa sebuah pinangan yang menimpali pinangan lain merupakan bentuk ketidakramahan dan pengkhianatan.

Rindu menghela nafas panjang. Tentu ia tak ingin menjadi pengkhianat yang merupakan salah satu ciri dari orang munafik. Alhamdulillah Allah masih menjaganya melalui ilmu dan nasehat. Setelah menata hati dan pikiran, ia pun membalas SMS itu..

Iya sudah. Tolong jangan menghubungi saya lagi ya. Terimakasih.

Begitulah akhirnya. Singkat dan jelas. Tanpa perlu keterangan atau basa-basi lainnya. Sebab jodoh selalu datang tepat pada waktunya. Jika terlambat maka bukan jodoh namanya. Itu saja.

(dhini iffansyah)

*Sumber: https://muslimah.or.id/4784-menimpali-pinangan-lelaki-lain.html

Rabu, 20 Januari 2016

Curahan Hati Rindu

"Wid, kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu bertanya sambil terus memotong kecil-kecil chicken steak dihadapannya.

"Hah?" Widya yang tengah asyik menyeruput avocado float-nya cukup kaget dengan pertanyaan Rindu yang tiba-tiba.

Weekend ini seperti biasa mereka berdua menyempatkan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama disela-sela kesibukan perkuliahan.

Dua cewek yang akrab sejak duduk di bangku SMP ini memang sudah sangat dekat bahkan sudah seperti saudara kandung. Meskipun karakter mereka jauh berbeda, Rindu yang feminin merasa nyaman dengan sosok Widya yang agak tomboy dan apa adanya.

Kadang Widya yang datang ke kosan Rindu, atau sebaliknya. Tapi kali ini mereka memutuskan untuk mencoba tempat nongkrong yang katanya lumayan cozy. Karena terbilang masih baru alhasil banyak orang yang datang kesana. Untungnya Rindu dan Widya masih sempat mendapatkan kursi yang diletakan di depan resto.

"Kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu mengulangi pertanyaannya dan kali ini sambil menatap Widya dengan lekat.

"Eeeng maksud pertanyaannya apa nih?" Widya balik bertanya sambil membalas tatapan Rindu dengan curiga.

"Engga ada maksud apa-apa. Iseng aja tanya. Jawab aja apa susahnya sih?!" Rindu memanyunkan bibirnya pura-pura ngambek.

"Iya..iya.... Kayaknya sih lebih suka penulis." Jawab Widya seadanya sambil mengaduk-aduk minumannya dengan santai.

"Kenapa?"

"Ya engga apa-apa. Iseng aja jawab gitu." Widya membalas kata-kata sahabatnya dengan raut wajah usil.

"Iiih nyebelin! Orang serius juga tanyanya." Kali ini Rindu benar-benar sewot dengan respon Widya. Selembar tisu yang diletakan rapi disamping piringnya pun melayang ke wajah manis sahabatnya.

"Hehehehe.... Ampun, just kidding kali sis." Widya semakin tertawa renyah karena berhasil memancing emosi Rindu.

"Lagian sejak kapan sih kamu jadi plin-plan gini? Tadi katanya iseng terus sekarang serius. Jadi yang bener yang mana?"

"Yaa... Iseng... tapi serius juga..." Rindu mendadak jadi salah tingkah di depan Widya.

"Haduh Riiin...! Kamu itu engga bakat bohong. Sudahlah terus terang aja. Kamu pasti lagi galau kan?"

"Engga kok... Ngapain juga ngegalauin yang belum jelas."

"Nah! Ketahuan kan!"

"Apanya?"

"Ya itu tadi. Pasti sekarang kamu lagi dideketin sama cowok yang engga jelas." Widya menebak dengan pede.

"Engga gitu Widya. Kamu kok bisa cepet banget sih ngambil kesimpulan?" Rindu menggelengkan kepala dengan heran.

"Kalau bukan cowoknya yang engga jelas...... berarti kamunya dong?!"

Rindu terdiam mendengar tudingan Widya yang semakin membuatnya yakin.

"Kamu jadi di ta'aruf-in sama guru ngaji kamu itu? Terus kabar cowok yang dikenalin sama kakak kamu kemarin gimana?" Widya bertanya penuh selidik.

Melihat ekspresi Rindu yang gelisah, akhirnya ia bisa memahami situasinya. Dan sekarang ia berpikir beberapa saat sebelum angkat bicara.

"Gitaris atau penulis ya? Menurutku better penulis lah. Penulis itu kan biasanya smart, romantis dan setia." Ujar Widya berteori.

"Memangnya gitaris engga?"

"Mungkin ada... tapi jarang. Kamu lihat aja tuh temen-temen SMA kita yang dulu gitaris band. Pada malas belajar dan sering gonta-ganti pacar kan?"

"Kayak si Bayu?" Rindu buru-buru menutup mulutnya. Ia keceplosan menyebut nama keramat itu.

"Biasa aja keleees. Aku sudah lama move on dari dia. Ngapain juga aku mikirin tukang selingkuh?"

Rindu tersenyum lega. Sebelumnya Widya selalu marah kalau mendengar nama Bayu disebut.

Sebenarnya Widya memang sempat sangat sakit hati atas perlakuan Bayu yang kepergok selingkuh berulang kali. Namun semenjak ia suka ikut-ikutan Rindu ke pengajian, sedikit demi sedikit ia menyadari kekeliruannya dalam hal berpacaran dan membuat mata hatinya semakin terbuka.

Setelah melihat Widya baik-baik saja, Rindu pun memberanikan diri melanjutkan surveinya.

"Tapi kalau si penulis ini usianya lebih muda gimana?"

"Maksud kamu brondong??!" Widya membelalakan matanya tak percaya.

"Cuma beda beberapa tahun kok..." Ujar Rindu seolah membela diri.

"Tetep aja kan brondong." Widya bertahan dalam pendiriannya dan membuat Rindu pasrah.

"So...? What do you think?" Rindu mendesak Widya memberikan pendapatnya.

Mendapati wajah Rindu yang bertambah galau, Widya pun menghela nafas panjang.

"Rindu sayaaang. Apa yang aku pikirin itu engga penting. Kamu itu harusnya denger kata hati kamu sendiri. Karena nanti yang menjalani itu semua adalah kamu. Mau dia gitaris atau penulis, mau lebih tua atau lebih muda, itu semua tergantung kamu. Pilih aja yang sesuai sama hati kamu. Simple kan?"

"Iya... Tapi aku juga masih belum yakin Wid. Darimana coba aku bisa tahu kalau orang itu sesuai atau engga sama aku?"

"Kalau itu kamu tanya aja sama Tuhan. Kan Tuhan Maha Tahu segalanya."

"Tanya sama Tuhan...?"

"Iya Tuhan. Tuhan yang nyiptain kita itu pastinya tahu juga dong apa yang sesuai untuk kita. Jadi kamu tanya aja sama Tuhan. Apa ya tuh namanya? Rasanya aku pernah denger deh di pengajian temen-temen kamu itu."

"Istikharah?"

"Yap itu dia. Istikharah!"

"Kalau setelah istikharah ternyata sama aja gimana?"

"Heem.. Kalau setelah ISTIKHARAH sama aja berarti kamu harus banyakin ISTIGHFAR Rin, biar engga galau terus-terusan."

"WIDYAAA!!!" Tanpa sadar Rindu meneriaki sahabatnya yang kini kembali cengengesan.

Sebelum mengomel lebih jauh Widya pun mencomot kentang goreng miliknya lalu menyuapkannya pada Rindu.

"Peace...." Widya memasang senyum lebarnya sambil mengibar-ngibarkan tisu yang tadi dilempar Rindu padanya.

"Keep calm and trust Allah. Kamu kan yang selalu bilang kayak gitu ke aku? Jadi engga ada alasan untuk pesimis. Tuhan pasti ngasih kamu jawaban dan jalan keluar terbaik."

Rindu tertegun dengan pernyataan sahabatnya. Semua itu memang benar. Tak seharusnya kita ragu setelah mengaku beriman.

"Masyaallah Widya.. Makasih ya sudah ngingatin aku."

"With pleasure sis."

"Tapi darimana kamu belajar ngomong bijak kayak gitu?"

"Dari seorang sahabat yang sedang merindukan belahan jiwanya. Semoga aja kerinduan dia segera terobati."

"AAMIIN." Pekik Rindu dan Widya bersamaan.

Dua sejoli itu akhirnya tertawa bahagia dan melanjutkan menikmati sore mereka yang teduh di bawah langit kota Banjarbaru.

Cerpen by dhini iffansyah

Kamis, 05 November 2015

Broken

"BANGS*T!!" Kata makian itu meluncur dari lisan ibu. Sungguh diluar dugaan, Kak Ray pun merasa begitu terluka. Ini kali pertama ibu berkata kasar padanya.

Ira menangis di dalam kamarnya. Sementara Kak Nina tak tahu berada dimana. Belakangan dia semakin jarang di rumah. Lebih suka menghabiskan waktu bersama teman-teman kantornya. Entah sampai kapan neraka ini akan berkobar di dalam rumah yang semestinya menjadi surga. Api asmara antara ibu dengan suami barunya benar-benar membakar keharmonisan keluarga Ira.

Sepuluh menit berlalu, akhirnya pertengkaran itu pun selesai. Terdengar suara pintu depan yang dibanting dengan kasar, disusul dengan suara mobil yang melaju meninggalkan rumah.

Tok.. tok.. tok. Suara pintu kamar Ira diketuk dengan perlahan.

"Masuk kak..." Ira mempersilahkan dan buru-buru menghapus air matanya.

"Ira, makan dulu yuk? Seharian ini kamu belum makan apa-apa kan?" Kak Ray mendekati Ira yang tak bergeming di atas kasur. Ia lalu duduk disamping Ira, menatapnya dengan ekspresi seperti tak terjadi apa-apa.

"Aku enggak lapar kok kak. Ibu kemana?" Ira bertanya dengan suara sedikit bergetar.

Ray menghela nafas. "Ibu sudah pulang."

"Pulang kemana kak? Rumah ibu kan disini?!" Ujar Ira heran.

"Enggak lagi. Sekarang ibu sudah punya rumah baru dengan suaminya."

Mendengar itu air mata Ira langsung mengalir begitu saja. Hatinya terasa ditusuk-tusuk. Belum usai dukanya kehilangan bapak. Mengapa sekarang ibu juga harus dirampas darinya?

Kak Ray duduk disamping Ira dan mengusap air mata adiknya dengan lembut. "Sudahlah Ra, apa kamu enggak capek nangis terus? Ibu aja sudah enggak peduli sama kita. Dia kesini hanya demi uang."

"Apa kak?!" Ira kaget. Ia berharap hanya salah mendengar. Tidak mungkin ibu sampai seperti itu. Walau sekarang ibu sudah menikah lagi, namun sampai kapanpun mereka akan selalu menjadi anak ibu.

"Ibu...." Kak Ray tampak ragu-ragu ingin menjelaskan.

"Ibu kenapa kak? Kakak kok bisa ngomong kayak gitu soal ibu?"

"Tadi ibu minta buku tabungan dan surat berharga lainnya."

"Tapi buat apa kak? Selama ini kan selalu kakak yang simpan. Memangnya ibu berencana mau jual aset keluarga kita? Apa ibu lagi perlu banyak uang?." Ira tetap berupaya untuk berprasangka baik pada ibunya. Barangkali ada masalah yang ia tidak tahu.

"Entahlah Ra. Dua hari yang lalu ibu sempat minta 2 juta ke kakak. Dan barusan ibu minta uang lagi. Pas kakak tanya baik-baik, ibu malah marah."

"Jadi tadi kakak menolak permintaan ibu?" Tanya Ira dengan nada suara yang menyayangkan.

"MEMANGNYA HARUS GIMANA LAGI RA? KALAU KAKAK TURUTIN TERUS MAUNYA IBU, SEMUA WARISAN BAPAK BISA HABIS DALAM SEKEJAP. MEMANGNYA KAMU MAU HIDUP MELARAT? SAMPAI MATI PUN KAKAK ENGGAK AKAN MEMBIARKAN HIDUP KAMU SAMA NINA JADI MENDERITA. KALIAN BERDUA SEKARANG JADI TANGGUNGJAWAB KAKAK." Suara Kak Ray mendadak lebih nyaring dari sebelumnya dan ekspresinya pun berubah marah.

Ira menyadari bahwa ia telah menyinggung perasaan Kak Ray. Ia berusaha menggenggam tangan kakaknya namun segera ditepis oleh Ray.

"Maaf kak, Ira cuma... selama ini kita selalu nurut apa kata ibu, terutama...." Ira mengigit bibirnya. Kali ini ia sangat berhati-hati dengan ucapannya. Ia tidak ingin membuat kakaknya semakin salah paham.

"Sudahlah." Ray bicara sembari berlalu dari kamar adiknya. Ray tahu dan sadar betul bahwa ia dan adik-adiknya selama ini memang selalu menjadi anak yang penurut. Terutama dirinya. Seingatnya ia tak pernah sekalipun membantah perkataan maupun keinginan orangtuanya. Namun kali ini berbeda. Sikap berbakti yang selama ini ia jaga seolah menjadi sia-sia.

Cerpen by dhini iffansyah

Minggu, 23 Agustus 2015

Ta'aruf (Bagian 2)

Setelah satu minggu berlalu. Malam-malam panjang selalu dilewati Ira dengan sholat dan berdoa, semata memohon petunjuk dari Rabb-nya.

Hati yang semula ragu sekarang mulai meyakini. Insyaallah ikhwan itu adalah sang pendamping yang telah lama dinanti.

Kak Ray pun menghubungi si Ikhwan. Tanpa basa-basi meminta akad nikah dilangsungkan 4 bulan dari sekarang. Tak banyak yang diminta. Cukup acara sederhana yang mengundang orang terdekat dari kedua pihak keluarga.

Si Ikhwan mengiyakan. Ia berjanji akan segera datang ke rumah, bersama dengan orangtuanya untuk mengkhitbah sekaligus membicarakan persiapan akad dan walimah.

Namun.....

Entah mengapa. Meski Ira sudah menduga-duga dalam benaknya. Tapi ia berusaha untuk tetap berbaik sangka.

Sudah sebulan dari pembicaraan singkat kak Ray dan si Ikhwan via telepon. Janjinya untuk datang mengkhitbah beserta keluarga tak kunjung tiba. Pun ketika ditanya, si ikhwan hanya meminta maaf dan mulai beralasan macam-macam.

Kak Ray amat kecewa. Terlebih tak tega pada adiknya.

"Engga apa-apa kok Kak. Mungkin dia dan keluarga memang sedang sibuk. Jadi belum bisa datang kesini." Ira mencoba menghibur kak Ray yang terlihat begitu merasa bersalah.

Kak Ray tak bisa berkata apa-apa lagi, selain memandangi senyuman tabah dari bibir adiknya.

Kalau saja si Ikhwan itu yang ada di hadapan Ray sekarang, ia tak akan ragu untuk menghadiahi bogem mentah sebagai tanda terimakasih atas harapan palsunya selama ini.

Kak Nina yang melihat pemandangan yang sama selama satu bulan itu akhirnya angkat bicara. "Coba kamu hubungi teman yang dulu mengenalkan kalian. Mungkin dia tahu sesuatu."

Ira tersentak. Benar juga kata kak Nina. Mengapa tak terpikirkan olehnya? Sore itu juga ia mengirimkan pesan sambil terus berharap akan memperoleh penjelasan.

Wa'alaykumussalaam Ra. Afwan, semua yang terjadi diluar perkiraan kami. Saat ini kami masih berupaya keras agar prosesnya bisa segera dilanjutkan. Tapi sepertinya Allah punya rencana lain. Afwan. Insyaallah besok beliau akan datang untuk menjelaskan.

SMS balasan itu malah semakin membuat Ira bingung. Apa maksudnya? Apa itu berarti prosesnya tetap dilanjutkan atau tidak?

Alih-alih bertanya lagi, Ira memutuskan untuk menahan diri dan menyimpan pertanyaan itu untuk si Ikhwan. Biarlah, apa pun yang dikatakannya nanti. Insyaallah Ira sudah siap.

***

Suasana ruang tamu sore hari itu begitu canggung. Si ikhwan datang seorang diri. Sejak awal kak Ray sudah menunjukan rasa tidak sukanya. Hingga memaksa kak Nina berdehem berulang kali, untuk mengingatkan agar kak Ray bisa menjaga sikap serta menahan emosi.

"Langsung saja. Jadi bagaimana kelanjutannya? Apakah mau diteruskan atau tidak?" Kak Ray memulai pembicaraan.

Si Ikhwan menelan ludah. Perasaan campur aduk menyelimutinya. "Sebelumnya saya minta maaf bila kedatangan saya ini dinilai sangat terlambat. Saya tidak ada maksud mengulur-ulur waktu. Sejujurnya saya sudah sangat yakin dan ingin menuruskan......." Tiba-tiba kalimatnya terhenti begitu saja.

"Sebenarnya ada apa akh?" Ira akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan hal yang amat mengusik dirinya belakangan ini.

"Orangtua..... mereka tidak setuju." Si Ikhwan tertunduk lemas usai mengatakannya. Sementara Ira, Kak Ray dan Kak Nina serentak mengernyitkan dahi.

"Bukannya dulu kamu bilang orangtua ngikut saja?!" Kak Ray yang masih ingat betul dengan keterangan si Ikhwan saat pertemuan pertama mereka, merasa sangat tidak terima.

"Iya betul. Tapi itu sebelum....." Si Ikhwan terdiam lagi.

"Sebelum apa? Apa ternyata kamu sudah dijodohkan?" Kali ini kak Nina bertanya dengan nada yang ditinggikan. Ia semakin geregetan mendengar penjelasan yang bertele-tele.

"Bukan. Bukan begitu." Si ikhwan tampak pucat. Keringat mengucur dari dahinya.

Ira yang melihat kondisi itu berbalik menjadi kasihan. "Jadi apa alasan sebenarnya?" Ujar Ira dengan tenang namun tetap tegas.

"Orangtua tahu tentang kabar ibu anti yang nikah siri..."

Mendengar itu kak Ray langsung tersandar di sofa. Kak Nina bahkan langsung berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Hati mereka menjadi terbakar saat pernikahan siri itu disebut lagi sebagai sumber masalah.

"Aa...apa..."  Ujar Ira terbata. Sambil sekuat tenaga menahan air mata.

"Ayah tiri anti itu adalah suami dari sahabat orangtua ana. Mereka sudah kenal sejak lama. Jadi..."

"Cukup akhi. Tolong jangan dilanjutkan." Ira buru-buru memotong penjelasannya. Ia tak sanggup bila harus mendengar sekali lagi, kenyataan bahwa ibunya adalah seorang perusak rumah tangga dan perebut suami orang. Tentu tak berlebihan bila orangtua si Ikhwan tak merestui hubungan mereka. Orangtua mana yang dengan senang hati memiliki besan seperti itu?

"Insyaallah ana dan keluarga sudah bisa memahami alasan antum." Ira melanjutkan dengan suara yang tercekat.

Kak Ray menatap adiknya dengan penuh rasa iba. Kemudian segera beralih pada si Ikhwan. "Tunggu dulu. Hal ini masih bisa kita bicarakan lagi kan? Pernikahan siri ibu kami itu enggak ada kaitannya dengan Ira. Kami bahkan enggak pernah merestui hubungan mereka..."

"Sudah kak." Ira menghentikan pembelaan kak Ray sambil menggenggam erat tangannya.

"Ini bukan hal yang bisa dipaksakan. Pernikahan itu enggak cuma menyatukan dua orang, tapi juga menyatukan dua keluarga. Karena itu sekarang semuanya sudah jelas. Ana mohon maaf yang sebesar-besarnya. Antum bisa pulang sekarang."

"Enggak ukh, ana yang seharusnya minta maaf pada anti sekeluarga. Ana pamit. Assalaamu'alaykum." Si Ikhwan pergi dengan terburu-buru. Jantungnya masih terus berdegup kencang. Menerima semua kekecewaan Ira dan saudaranya. Terutama kekecewaannya pribadi. Istikharah panjang selama ini tak lantas membuat jalan cintanya menjadi mulus. Meski hati berkata iya, namun ternyata takdir masih bisa berkata tidak.

Cerpen by.dhini iffansyah

Selasa, 04 Agustus 2015

Janji Ibu

Bila ada hal yang tak pernah terbayangkan di dunia ini, mungkin itu adalah menyaksikan ibu kandungmu menikah lagi dengan laki-laki lain. Bahkan dia bukan laki-laki biasa, melainkan seorang ayah dan suami dari wanita lain !

Ya, ibuku menjadi istri kedua. Tanpa restu dari sang istri pertama dan kami sebagai anak-anaknya.

Bagai petir disiang bolong. Nyaris saja aku pingsan selepas menerima telepon dari keluarga di kampung. Seorang kerabat mengatakan, ibuku sudah menikah disana kemarin. Dihadiri oleh sanak saudara yang mendukung nikah siri itu.

Sungguh sampai hati kalian mengkhianati almarhum bapak. Sosok yang selama ini terlampau baik pada kalian... pada ibu.

Dengan jabatan dan kekayaannya semasa hidup, tentu tak sulit baginya bila ingin menikah lagi. Namun beliau memilih setia. Monogami hingga akhir hayatnya. Menjadikan ibuku yang pertama dan terakhir, wanita teristimewa yang diharapkan menjadi bidadari surga baginya.

Pupus sudah...

Bila bapak melihat ini tentu akan patah hatinya. Tangisku tak terbendung membayangkan betapa kecewanya bapak bila ia tahu tentang pilihan ibu untuk tak setia. Ibu memilih menyalahi janjinya. Janji tak menikah lagi bila kelak bapak lebih dulu tiada. Janji yang ia buat di saat-saat terakhir menjelang kematian bapak. Janji yang ia umbar pada siapa saja yang hadir di pemakaman suaminya. Janji itu palsu.

Kini ku tak tahu kemana lagi harus mencari cinta untuk ibu. Cinta yang selama ini membesarkanku dalam sekejap menghancurkan jiwaku.

Ibu...

Apa ini sungguh berarti untukmu?

Menjadi janda perusak rumah tangga orang lain. Lalu mengabaikan anak-anak mu bagai rongsok tak berarti.

Apa ini sungguh membuatmu bahagia?

Maka berbahagialah ibu di atas derita istri pertama, derita anak-anak yang broken home, dan derita almarhum mantan suamimu.

Berbahagialah ibu menjadi gunjingan para tetangga, menjadi sebab rasa malu kami memandang realita, menjadi ibu yang dimabuk cinta yang fana.

"Sudahlah Nina... "

Dalam lamunan panjangku, ternyata ada seseorang yang menghampiri dan menyapaku dengan lembut.

"...jangan terus larut dalam kesedihan. Kamu masih memiliki saudara, sahabat, dan tentu saja Allah yang selalu mendekap doa-doa kita semua. Lalui ujian ini dengan sabar dan ikhlas supaya kamu bisa naik kelas. Aku yakin, melalui kejadian ini Allah ingin menunjukan bahwa betapa kamu dan saudara-saudaramu adalah muslim yang kuat."

Aku pun tersenyum membalas ketulusannya. Katanya sahabat sejati itu 1:1.000. Dan bagiku, Gea adalah orang itu. Dia tetap bersamaku ketika yang lain memilih menutup mata dan telinga namun terus membuka mulutnya untuk hal tak berguna. Alhamdulillah dengan izinNya, ku temukan lagi hikmah lain dari sebuah malapetaka.

Cerpen by dhini iffansyah

Selasa, 30 Juni 2015

Ta'aruf

"Gimana nak? Kamu tegang?" Ibu bertanya penuh selidik kepada putri bungsunya.

"Enggak, biasa aja." Ujar Ira jujur.

Spontan kak Ray dan istrinya yang duduk di kursi mobil bagian depan tertawa mendengar jawaban adik mereka yang memang tampak begitu santai.

"Kok malah ibu yang tegang ya..?!" Ibu keheranan melihat sikap Ira yang hanya tersenyum manis seperti biasa.

Sekitar dua minggu yang lalu, Ira mendapatkan e-mail dari seorang teman. Isinya adalah biodata ikhwan yang berniat ta'aruf dengannya. Teman Ira tampak bersemangat untuk menjodohkan mereka, karena menurutnya diantara Ira dan si ikhwan ini ada kesamaan.

Secara latar belakang keluarga, pendidikan dan pekerjaan sama sekali tak ada masalah. Bahkan boleh dikatakan ideal. Perihal agama pun insyaallah baik, karena ikhwan ini rajin ikut pengajian sekaligus anggota muda di sebuah Masjid ternama di kotanya.

Setelah berkutat dengan hati dan pikirannya sendiri, akhirnya Ira bisa mengutarakan perihal tersebut pada keluarganya. Dan hari ini adalah hari yang mereka sepakati untuk bertemu dengan si ikhwan.

Pertemuan di hari Jum'at bulan Ramadhan. Tak ada hal khusus yang dipersiapkan selain booking tempat makan untuk buka puasa bersama.

Selama perjalanan di dalam mobil, Ira hanya memandang keluar jendela. Mempertimbangkan apa saja yang penting untuk nanti ditanyakan. Terlintas percakapannya dengan kak Ray sebelum tadi mereka berangkat.

"Nanti adik perlu waktu kan untuk memutuskan?" Tanya kak Ray di depan rumah mereka.

"Iya." Jawab Ira singkat.

"Adik mau minta waktu berapa lama?"

"Kalau orangnya enggak keberatan, sekitar satu minggu."

"Oke. Nanti kakak sampaikan." Ujar kak Ray tersenyum meyakinkan.

Setelah kepergian bapak 6 tahun lalu, secara otomatis kak Ray menggantikan peran almarhum sebagai kepala keluarga dan wali bagi adik perempuannya. 

Sebenarnya kak Ray juga merasa sedikit gugup, sebab ini pertama kalinya sang adik ingin mengenalkan seorang laki-laki padanya untuk ta'aruf. Kak Ray bahkan sempat browsing film "Ketika Cinta Bertasbih" di youtube sebagai rujukan apa saja yang harus dilakukan dan dibicarakan.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Adik kecilnya akan berusia 25 tahun bulan depan dan jika proses ta'aruf lancar maka insyaallah ia pun akan segera menikah tahun ini juga.

Sesekali kak Ray melirik Ira dari kaca spion mobil. Hari ini adiknya mengenakan gamis warna kuning kunyit favoritnya serta kerudung warna hitam. Sangat sederhana namun tetap cantik. Kak Ray berharap siapapun laki-laki yang kelak menjadi suami Ira, dapat selalu menjaga dan menyayanginya.

Setibanya di rumah makan khas Sunda, Ira sekeluarga pun langsung menuju meja yang mereka pesan. Ada dua meja dan 8 kursi. Ira duduk disamping ibu, berseberangan dengan Kak Ray dan istrinya. Masih ada 4 kursi kosong untuk berjaga-jaga bila ternyata si ikhwan datang bersama teman atau keluarganya.

Tempat itu sudah cukup ramai dengan para pelanggan yang ngabuburit. Tak lama setelah itu  tampak seorang pelayan yang menempel kertas bertuliskan "Penuh" di pintu masuk.

"Mana orangnya, nak? Sudah datang belum? Kamu tahu enggak ciri-cirinya?" Ibu langsung menyerang Ira dengan pertanyaan seusai mereka duduk.

"Mungkin sebentar lagi, Bu. Iya tahu kok." Ujar Ira sambil menyebar pandangan.

"Assalaamu'alaykum." Seorang laki-laki berkacamata dengan baju koko warna coklat tua dan celana kain di atas mata kaki datang memberi salam kepada Ira sekeluarga.

"Wa'alaykumussalaam, silahkan duduk." Kak Ray berdiri dan menjabat tangan si pemberi salam kemudian memberi isyarat untuk duduk tepat disampingnya.

Untuk beberapa saat, Ira, ibu dan iparnya hanya diam saja. Hanya terdengar suara kak Ray dan si ikhwan yang tengah asyik mengobrol basa-basi.

Pertanyaan seputar pekerjaan, alamat rumah, dan kondisi keluarga yang sebenarnya sudah terjawab di biodata si ikhwan. Sepertinya kak Ray sedang melakukan pemanasan sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius.

Jam menunjukan pukul 18.15 wita. Masih ada waktu untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Ira akhirnya memutuskan untuk tak membuang kesempatan.

"Orangtua sudah setuju atau gimana?" Ira memulai investigasi nya.

"Orangtua insyaallah setuju. Beliau ngikut saja." Ujar si ikhwan mantap.

"Ooh, memang rencananya mau nikah kapan?"

"Kalau itu diserahkan ke pihak perempuannya." Jawab si ikhwan sambil tersenyum.

"Setelah menikah, aku boleh tetap bekerja?"

"Boleh."

"Oh iya, soal memiliki anak. Apa harus lebih dari 4?"

Kali ini si ikhwan tertawa. "Iya karena Rasulullah itu akan bangga melihat umatnya yang banyak."

Ira terdiam beberapa saat. Istri kak Ray memberi isyarat untuk tenang.
"Jangan khawatir, masalah anak itu masih bisa dinegosiasikan setelah berumah tangga. Suami juga tak akan sampai hati membiarkan isterinya kewalahan mengurus anak." Kira-kira itulah yang ingin istri kak Ray sampaikan melalui tatapan teduhnya. Ira pun tersenyum berterimakasih.

"Kalau dari kamu enggak ada yang mau ditanyakan?" Tanya Ira penasaran. Sebab dari tadi hanya ia yang bertanya.

"Sekarang kesibukan Ira apa saja?"

"Aku di rumah aja, sambil jualan on line. Sama ikut di kegiatan dakwah."

Si ikhwan hanya manggut-manggut. Tidak ada tanggapan maupun pertanyaan susulan.

"Ada kepikiran poligami?" Tanya Ira akhirnya.

Si ikhwan tertawa seperti sebelumnya namun kali ini juga tampak sedikit salah tingkah. "Satu aja belum punya." Ujarnya.

Ira kecewa mendengar jawaban yang tak menjawab itu. Bagi Ira pertanyaan itu sangat penting.

"Kalau sudah ada satu?" Ira bersikeras untuk mendapat jawaban.

"Poligami itu sunnah. Tapi berbuat adil itu wajib. Dan adil itu susah. Kita aja belum tentu bisa adil sama diri sendiri, orangtua dan satu istri. Jadi belum ada kepikiran kesana."

Penjelasan yang terdengar lebih serius itu belum juga melegakan hati Ira. Dalam hatinya berbisik "Berarti bila suatu saat dia mengganggap dirinya bisa adil maka kemungkinan berpoligami itu ada."

Ibu yang duduk disebelah Ira seperti menangkap getar keresahannya. Beliau pun memberi sentuhan lembut untuk menguatkan putrinya.

Azan maghrib menggema menyelamatkan suasana. Mereka pun menghentikan pembicaraan dan mulai membaca doa masing-masing lalu menyantap hidangan buka puasa yang telah disajikan.

Acara ta'aruf pun selesai setelah mereka sholat berjama'ah di mushola. Kak Ray tak lupa menyampaikan tentang jawaban yang insyaallah akan diberikan seminggu lagi.

"Enggak masalah. Tergesa-gesa itu sifatnya setan. Jadi silahkan pikirkan dulu baik-baik." Ujar si ikhwan tak keberatan.

Keluarga Ira dan si ikhwan pun saling berpamitan di bawah langit malam yang menjadi saksi pertemuan yang masih menyisakan pertanyaan besar. Apakah dia benar jodoh  yang dikirimkan Tuhan sebagai salah satu berkah bulan Ramadhan? Wallahu'alam.

Cerpen by.dhini iffansyah.

Minggu, 22 Maret 2015

Diary Riry

Sabtu, 21 Maret 2015

Dear diary, pertanyaan itu hadir lagi...

"Riry, kamu sudah punya calon belum?"

Ah, pertanyaan semacam ini mungkin biasa diterima oleh para jomblo di usiaku sekarang.

Meski demikian, tetap saja aku selalu bingung menjawabnya.

Bila menjawab ada, berarti aku berbohong, karena pada kenyataannya aku belum terikat pada siapapun. Namun bila menjawab belum ada, aku khawatir pertanyaan itu akan berbuntut panjang.

Seperti yang pernah terjadi dulu. Tiba-tiba saja orang itu datang ke rumah dan ingin bertemu keluargaku.

Diary... ini sudah kali keempat.

Aku sadar bahwa cepat atau lambat, aku memang harus memutuskan pilihan. Tapi aku terus saja mengulur-ulur waktu.

Biodata pribadi yang diminta oleh guru ngaji pun belum juga ku selesaikan. Padahal tentu saja itu  dimaksudkan untuk mempermudah proses ta'aruf ku nanti ke jenjang pernikahan.

Diary, pertanyaan itu sekarang semakin mengganggu.

Sebab kali ini diajukan oleh Hanif. Seorang teman lama yang baru saja menyelesaikan program magisternya. Aku tak tahu banyak tentangnya, namun insyaallah dia pribadi yang shalih.

Diary, bukankah seharusnya aku bersyukur sekarang? Hanif adalah sosok yang cukup sempurna untuk menjadi pendamping hidup.Tapi nyatanya hatiku masih saja bimbang. Apa karena aku masih mengharapkan Fadhil?

Padahal sampai sekarang aku bahkan tidak tahu kabarnya. Semenjak lulus kuliah, aku tak pernah bertemu lagi dengan Fadhil.

Sepertinya dia masih saja berkutat dengan urusan skripsi. Entah karena kesulitan, sengaja menunda atau memang sudah tak peduli dengan studinya.

Diantara kami memang tak ada ikatan apapun. Hanya saja... sejak lama aku sudah menaruh simpati padanya.

Keterlibatan kami dalam organisasi kampus yang sama membuatku sedikit banyak mengenalnya. Fadhil adalah sosok aktivis yang bersemangat dan berani menentang arus.

Diary, apa aku terlalu naif? Mungkin saja Fadhil sudah memiliki rencana menikah dengan orang lain setelah lulus kuliah. Sampai kapan aku mau menunggu sesuatu yang tak pasti? Sedangkan kini Hanif datang menawarkan masa depan yang baik.

Tapi...

Apa benar aku sanggup menjalani kehidupan rumah tangga bersama Hanif? Meski awalnya tanpa rasa apa-apa.

Akankah waktu bisa menumbuhkan cinta? Bila ternyata tidak, apa aku tetap bisa bahagia dengannya?

Diary, tak disangka keputusan untuk menikah ini akan menjadi sangat sulit.

Aku tak ingin salah memutuskan. Aku ingin bila pernikahan itu terjadi, maka itu adalah pernikahan sekali seumur hidup dan menjadi pernikahan yang ku syukuri hingga maut menjemput.

Heem... tak terasa sekarang sudah hampir jam 2 malam. Sebaiknya aku sholat istikharah saja dulu. Lebih baik ku serahkan urusan ini pada Sang Pemilik Kehidupan. Aku yakin, Allah Maha Tahu, jodoh yang terbaik untukku.

Selamat malam diary :)
Salam sayang, Riry.

**cerpen by dhini iffansyah**

Rabu, 07 Mei 2014

Raisa

Pusing yang dirasakan Raisa terasa semakin hebat. Badannya pun begitu lemas. Sudah hampir dua pekan sikap ibunya tak berubah padanya. Hari-hari Raisa terasa seperti di penjara... terkurung dalam kondisi yang terus-menerus menekan batinnya.

Dalam siang yang hening... Raisa menegakkan sholat zuhur di kamarnya. Setelah selesai ia pun mengambil mushaf Al-Qur'an dan melanjutkan tilawah seperti yang biasa ia lakukan.

BRRAAKK...

Tiba-tiba ibu masuk ke dalam kamar Raisa. Dia begitu kaget namun hanya terdiam di atas sajadah. Hanya bisa menunggu... apalagi yang akan ibunya lakukan kali ini.

"SUDAH NGAJINYA !" ibu mulai membentak seperti sebelumnya.

Raisa masih diam.. namun beralih duduk ke atas tempat tidur sambil menatap sang ibu.

"PERCUMA KAMU NGAJI KALAU NGELAWAN TERUS SAMA IBU.. KAMU TAHU?! RIDHO ORANGTUA ITU RIDHO ALLAH. KALAU IBU ENGGA RIDHO, BERARTI ALLAH JUGA ENGGA AKAN RIDHO SAMA KAMU" ibu semakin menggebu-gebu bahkan kali ini nafasnya terlihat terengah-engah.

Raisa mencoba tersenyum tipis menghadapi amarah ibunya. Namun ternyata senyuman itu pun ditanggapi secara berbeda..

"DASAR ANAK KURANG AJAR.. DIKASIH TAHU MALAH CENGENGESAN. NGERASA HEBAT YA, NGERASA PINTER ?!"

Ibu mendekati Raisa dan mecoba mendekap mulutnya sampai terhempas di tempat tidur. Raisa mulai merasa ketakutan... dan mendorong ibunya agar menjauh darinya. Namun ibunya seperti tak mau melepaskannya.

"SUDAAH...." Raisa akhirnya berteriak. Ibu tersentak sesaat.

"Ibu keluar aja... Raisa pusing... mau istirahat."

"KAMU YANG KELUAR! INI RUMAHKU!" kata-kata Ibu penuh dengan emosi.

Raisa berusaha mendorong ibunya agar keluar dari kamar, namun ibu justru mencoba menyeretnya ke kamar mandi. Raisa berontak sambil berteriak-teriak dan akhirnya air mata yang sekian lama ia tahan pun mengalir tak terbendung lagi.

"ENGGA,, RAISA ENGGA MAU" Raisa berteriak berusaha melepaskan diri dari cengkraman ibu kandungnya sendiri.

Setelah beberapa saat barulah Raisa bisa melepaskan dirinya dan berlari ke kamar. Raisa langsung mengunci pintu dan bergulat dengan berbagai macam perasaan yang menyelimuti hatinya. Takut, sedih, marah dan kecewa menjadi satu. 

Pada saat itu munculah pikiran Raisa untuk kabur dari rumah. Dia merasa sudah tidak tahan dan ingin lari dari masalah. Segera dia meraih ponsel dan mulai menanyakan ke beberapa sahabatnya yang berdomisili di luar kota, apakah mereka memiliki informasi pekerjaan yang kira-kira cocok untuknya disana.

Raisa bahkan sudah mulai mencari waktu penerbangan yang sesuai agar dia bisa membooking tiket pesawat secepatnya. Dia merasa yakin bahwa keputusan itu yang terbaik bagi ibu juga dirinya. Namun kemudian...

"Tok..tok..tok...." suara pintu diketuk perlahan dari luar kamar Raisa.

Raisa tak menghiraukan, karena dia tahu bahwa ibunya lah yang ada dibalik pintu itu.

"Tok..tok..tok...." pintu masih terus diketuk

"Nak... buka pintunya... Semua pasti ada hikmahnya." Ibu mencoba membujuk Raisa.

Raisa akhirnya bangkit dan membukakan pintu walau hanya sedikit. Dia masih tak ingin ibunya masuk ke kamarnya lagi.

"Ada apa bu?" Tanya Raisa

"Ini... ibu bawakan air" Ibu menyodorkan segelas air putih dari balik celah pintu yang dibukakan putrinya.

Raisa hanya mengambil dan menaruhnya diatas lemari. Dia tak ingin minum apapun saat itu.

Ibunya pun kembali berceloteh kesana-kemari, mengucapkan kalimat demi kalimat yang tidak saling berkaitan. Seperti ingin menjelaskan sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan.

"Cukup bu..." Raisa merasa semakin lelah dengan keadaan yang dihadapinya.

Ibunya pun diam dan berlalu. Raisa kembali mengunci kamarnya.

Hari semakin sore, Raisa memutuskan keluar kamar dan membersihkan dirinya untuk persiapan sholat ashar.
Ketika kembali ke kamar, Raisa sudah menemukan satu cup es krim coklat di atas lemarinya, ditaruh tepat disamping segelas air putih yang sebelumnya juga dibawakan oleh ibu.

Raisa tertegun. Dia tahu bahwa ibu sedang mencoba berdamai dengannya. Es krim itu seperti simbol kata "Maaf" yang tulus. Mungkin ibu sudah menyerah berkata-kata... karena kata-kata justru membuat keadaan mereka semakin rumit.

Raisa pun mulai ragu dengan keputusannya meninggalkan rumah. Bagaimanapun dia tahu bahwa ibu sangat menyayanginya. Terlebih kondisi *bipolar yang dialami ibu, membuat ibu sangat membutuhkan Raisa. Namun Raisa sungguh khawatir akan terus terluka bila terus bertahan disisi ibunya.

(dhini iffansyah)


*Bipolar disorder adalah jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood (alam perasaan) yang sangat ekstrim, yaitu berupa depresi dan mania. Pengambilan istilah bipolar disorder mengacu pada suasana hati penderitanya yang dapat berganti secara tiba-tiba antara dua kutub (bipolar) yang berlawanan yaitu kebahagiaan (mania) dan kesedihan (depresi) yang ekstrim. http://id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_bipolar

Senin, 07 Oktober 2013

Hari Raya Rahadian. Siapa Bilang Ukhuwah Itu Indah? (inspired by real life story)



Tak terasa... sudah memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Rasa sedihpun menyelimuti hati Rahadian. Sama seperti Ramadhan sebelumnya... kali ini pun ia telah disibukkan dengan berbagai macam agenda dakwah. Meski target amal yaumiyah selama Ramadhan telah terpenuhi... namun masih terasa ada yang kurang.


"Yaa Rabb... betapa hamba menyadari… ruhiyah ini mulai melemah akibat dosa-dosa yang hamba lakukan. Ku azamkan dalam diriku untuk beri'tikaf di masjid di penghujung Bulan Ramadhan-Mu yang mulia..... mudahkanlah hamba dalam menunaikan sunnah rasul-Mu.. Ya Allah... sungguh hamba rindu dan ingin mendekatkan diri pada-Mu.."

Begitulah suara hati seorang mukmin bernama Rahadian.

Rahadian berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menunaikan niatnya. Setelah shalat Subuh ia pun memulai i’tikaf di Masjid Jami’ Darussalam. Ia menyibukkan diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an serta mengkaji hadits.

Duhai indahnya saat-saat itu…… wajahnya yang teduh mencerminkan ketenangan jiwa yang ia rasakan. Tiada rasa lelah maupun jenuh. Inilah yang terjadi kala cinta memberi makna yang sesungguhnya.

Hemmm… Cinta…..?

Tiba-tiba Rahadian teringat dengan para ikhwan binaannya. Rasanya sudah begitu lama dia tidak bertemu dengan mereka. Halaqoh yang biasanya rutin diagendakan setiap pekan, kali ini memang sengaja di non-aktifkan agar masing-masing dapat berkonsentrasi menyempurnakan amal ibadahnya di Bulan Ramadhan.

**

Akhirnya di malam i’tikaf yang terakhir… Rahadian tak sanggup menahan air matanya untuk melepas kepergian Ramadhan.

Disisi lain, Rahadian pun merasakan kekhawatiran yang teramat sangat akan dirinya…..

“Yaa Allah… Rabb Semesta Alam… Sungguh Engkau telah berjanji memberikan pahala dan tempat terpuji bagi orang-orang yang Engkau Ridhoi…
Yaa Allah… hamba tahu bahwa janji-Mu pasti benar dan akan ditepati…
Tunjukkanlah pada hamba yaa Allah… sedikit bukti kebesaran-Mu… agar semakin bertambah iman dalam diriku… untuk selalu istiqomah di jalan dakwah-Mu…”

**

Sesaat Rahadian berada disuatu tempat yang asing. Tempat itu belum pernah ia datangi sebelumnya. Sambil menerka-nerka.. Rahadian terus berjalan menelusuri tempat itu yang semakin lama semakin terang dan sinarnya pun terasa berbeda… begitu indah dan menghangatkan jiwa.

Kemudian datang seorang laki-laki berpakaian serba putih yang menyambutnya dengan salam serta senyum paling bersahabat yang pernah ia lihat.

“Tahukah kau dimanakah kita saat ini akhi..?” Rahadian memberanikan diri untuk bertanya.

“Inilah tempat, dimana tidak ada lagi kesedihan, kesulitan, maupun keletihan.”

“Adakah orang yang ku kenal berada disini saat ini..?”

“Tentu, mari ku ajak kau berkeliling…..”

Rahadian menebarkan pandangan ke segala arah. Tak lama… ia melihat sosok akhi Rizal. Salah seorang adik binaan Rahadian yang selalu rajin menghadiri halaqoh serta baik akhlaknya.

Kedua laki-laki itu saling menatap dengan penuh rasa syukur… menangis dalam rangkulan satu sama lain.

“Subhanallah… Subhanallah… Subhanallah… Inilah janji Allah, akhi… inilah janji-Nya yang selalu kita kaji bersama…..” Rahadian berbisik kepada saudaranya sambil terus terisak.

**

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar 
Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Hayya 'alash sholah Hayya 'alash sholah


Hayya 'alal falah Hayya 'alal falah 
Ashsalatu khairum minan naum Ashsalatu khairum minan naum 
Allahu Akbar, Allahu Akbar 
Lailaha ilallah 

Rahadian terbangun oleh kumandang adzan shalat Subuh. Ia bergegas bangkit dan mengambil air wudhu. Alhamdulillah… hari yang begitu cerah… udara yang begitu sejuk. Secerah hati dan sesejuk perasaan Rahadian pada waktu itu.
Betapa Allah Maha Mendengar dan Maha Menjawab segala Permohonan….

**

Allahu akbar Allahu akbar Allahu akbar
La ilaha illallah wallahu akbar
Allahu akbar wa lillah ilhamd

Takbir kemenangan mengiringi langkah kaki Rahadian menuju lapangan untuk mendirikan shalat Id. Begitu banyak orang yang berkumpul disana. Namun ada satu orang yang begitu ingin ditemuinya di hari istimewa ini yaitu Akhi Rizal.

Selepas shalat Id… dalam hiruk pikuk keramaian orang-orang yang beranjak pergi meninggalkan lapangan...  Allah memperkenan mereka  untuk bertemu…

“Assalaamu’alaykum akhi…” Rahadian memberi salam terlebih dahulu

“Wa’alaykumussalaam waromatullohi wabarokatuh” Akhi Rizal pun menjawab dengan sempurna

“Taqoballahu Minna wa Minkum….”

“Selamat hari raya ya akh, maafin semua kesalahan ane…”

“Iya akh, ane juga mohon maaf kalau selama berinteraksi dengan antum ada kata maupun perbuatan yang tidak berkenan”

“Insyaallah tidak ada akhi….. justru antum selalu sabar dalam membimbing dan mengingatkan ane. Kemarin malam ane sampe mimpiin antum akh….. ane bahagia sekali… rasanya seperti nyata. ”

Rahadian tersentak dengan pernyataan Akhi Rizal.  Ekspresi Rahadian yang berubah drastis langsung ditangkap oleh Rizal.

“Ada apa akh….? Ada yang salah…?”

Rahadian menggelengkan kepala dengan segera dan memeluk binaannya.



“Tidak ada yang salah akhi… hanya saja ana bermimpi hal yang sama seperti antum….. semoga  Allah senantiasa menguatkan kita di jalan ini dan mempersaudarakan kita di dunia dan di akhirat. ”

Akhi Rizal seperti kehabisan kata mendengar kalimat yang terucap dari Murobbinya. Air mata itupun kembali menetes… mewakili semua rasa takjub, haru, dan bahagia yang ia rasakan di hari istimewa yang penuh dengan kemenangan.

"Nikmat yang paling berharga selepas nikmat iman dan islam, adalah memiliki sahabat yang shalih. Jika kamu mendapati kewujudan kasih sayang antara kamu dengannya maka peganglah dia bersungguh-sungguh"
-Umar bin Khattab- 


Jadi... siapa bilang ukhuwah itu indah??
tentu saja kata mereka yang mendapati itu dalam hidupnya.......... :')



Minggu, 11 November 2012

Sebuah Catatan Kerinduan


Malang, 10 November 2012
Semakin mendekati hari kelulusanku sebagai mahasiswa S1. Mama dan kakak perempuanku tampak antusias untuk menghadirinya. Kemarin mereka menelepon. Kami membicarakan panjang lebar terkait persiapan acara nanti. Harusnya aku bahagia namun nyatanya masih ada yang mengganjal dalam benak ku.

Jakarta, 16 Desember 2009
Papa baru saja menjalani operasi jantung. Setelah semalam diperbolehkan pulang dari rumah sakit Pusat Jantung Nasional, Harapan Kita. Hari ini aku, mama dan papa berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Kami diantar oleh salah seorang sepupuku bersama isteri dan juga anaknya. Seperti biasa, aku memilih duduk didekat pintu dan papa duduk tepat disampingku, ia duduk ditengah, diantara isteri dan anak perempuannya. Sepanjang perjalanan aku lebih banyak diam, melempar pandangan keluar, memperhatikan aktivitas pagi warga Jakarta.
Setibanya di bandara, aku duduk-duduk sebentar bersama mama dan papa, dan tidak jauh berbeda dari sebelumnya, aku pun lebih banyak diam. Tidak lama, aku pergi untuk check in di lokasi yang berbeda karena memang tujuan aku berbeda. Aku harus kembali ke Malang untuk kuliah, sedangkan mama dan papa pulang ke Banjarbaru. Aku pun berpamitan pada kedua orangtuaku, tanpa ada firasat apapun.

Malang-Banjarbaru, 17 Desember 2009
Siang ini aku ada kuliah psikologi industri dan organisasi. Aku memutuskan untuk tidur dulu karena masih merasa ngantuk. Sudah jadi kebiasaan ketika aku tidur maka handphone ku akan ikut “tidur”. Aku sengaja mematikan handphone agar tidurku tidak terganggu dengan suara dering sms maupun telepon. Namun hari ini berbeda.
Dering itu berasal dari telepon kosan, cukup nyaring dan terdengar jelas karena letaknya berada di depan kamarku. Tapi aku acuh saja, berharap ada orang lain yang akan mengangkatnya.
Ibu kos pun segera menerima panggilan itu. Samar-samar aku mendengar ibu kos berbicara beberapa saat dengan orang dibalik telepon. Tidak seperti biasa, ibu kos mengetuk kamarku, sambil memanggil-manggil namaku.

“Dhiinn…. Dhini.. ada telepon dari tante…”

Dengan sedikit malas aku menyahut kemudian bangun dan keluar kamar.

“Iya bu..”

Setelah membuka pintu, masih ku dapati sosok ibu kos yang memandangku dengan iba. Aku sudah merasa ada yang tidak beres

“Sabar ya dhin...”  ibu kos ku mengatakan itu dengan sungguh-sungguh.

Akupun meraih gegang telepon dengan agak gugup.

“Assalaamu’alaykum…”

“Wa’alaykumussalaam nak….. papa sudah gak ada….”  Suara tante agak gemetar dan penuh emosi, tante berbicara sambil menangis.

Aku bingung… shock… dan  diam. Sementara tante meneruskan berbicara ini dan itu, tapi aku seperti sudah tidak lagi berada disana.
Informasi yang ku terima dari tante terpotong-potong karena pikiranku sendiri yang sudah tidak bisa fokus.
Intinya adalah aku harus pulang saat itu juga. Aku harus segera berkemas dan pergi ke bandara Juanda untuk mengejar penerbangan sore itu ke Banjarbaru.

Aku menangis. Jiwaku serasa berpisah dari ragaku, terhuyung-huyung menuju kamar. Aku sudah tidak mengindahkan ibu kos yang ternyata masih berada didekatku.

Di dalam kamar, sambil terus menangis, aku mengemasi barang seadanya, memasukan beberapa lembar pakaian dan benda penting lainnya.
Setelah selesai packing aku mulai agak tenang, aku menelepon operator taksi untuk menjemput. Sambil menunggu, aku pun duduk di ruang tamu, ditemani oleh dua orang adik kosan yang juga hanya bisa diam melihat keadaanku.

Di dalam taksi, aku kembali menangis.

Sejenak akal sehatku kembali, teringat bahwa siang itu ada kuliah. Aku pun mengirimkan SMS kepada salah seorang teman untuk memintakan izin sekaligus untuk beberapa kuliah kedepan. Awalnya aku hanya menyampaikan izin karena harus pulang ke Kalimantan, tapi temanku lantas bertanya-tanya, mengapa mendadak? Akhirnya ku sampaikan bahwa ayahku baru saja meninggal dunia.

Tak lama, kabar itupun cepat tersebar. SMS belasungkawa dari teman-temanku membanjiri inbox. Entah mengapa, pesan simpatik dari mereka semakin membuat perasaanku berat dan air mata semakin sulit untuk dibendung.
Aku pun tiba di bandara Juanda. Tante sudah menunggu dan segera memelukku ketika keluar dari taksi. Sama seperti ketika membaca SMS, pelukan dari tante juga membuat lukaku semakin terasa perih.

Hari mendekati senja ketika kami sampai di bandara Syamsudin Noor.
Kakak laki-laki ku sudah ada disana, berdiri menyambut kedatangan kami.
Untuk pertama kalinya, bukan papa yang menjemputku di bandara. Air mata itupun kembali menetes dalam pelukan kakak laki-laki yang berusaha tegar menyabarkanku.

Di depan rumah sudah terpasang tenda dengan sederetan kursi-kursi. Para tetangga dan kerabat dekat pun sudah banyak yang berdatangan.
Aku berjalan melewati orang-orang itu, memasuki ruang tamu yang juga sudah dipenuhi oleh para pelayat.
Kakak perempuanku ada diantara mereka, matanya sembab. Ketika melihat aku datang, ia pun berdiri dan kami pun saling memeluk dan menangis tanpa ada suatu kata yang terucap.

Dan setelah serentetan tangis yang terjadi hari ini….
Yang paling mengiris hati adalah ketika aku menghampiri jenazah papa…
Badanku terasa lemas…
Tas yang ku bawa terjatuh begitu saja…
Aku bahkan merasa sulit bernafas…
Menyaksikan papa benar-benar sudah tiada.
Aku tersungkur dihadapannya, sosok yang kemarin baru saja bersamaku di Jakarta. Sekarang sudah pergi untuk selamanya.

Surabaya, Juli 2008
Menuju awal semester baru perkuliahan. Sekarang aku sudah menjadi mahasiswi Fakultas Psikologi UMM. Mama dan papa memutuskan untuk datang menjenguk anak bungsunya. Aku sengaja datang ke Surabaya untuk menjemput mereka. Segera setelah mencium kedua tangan orangtuaku, papa memberikan sebuah tas hitam yang sejak tadi dibawanya. Tas itu berisi laptop. Di dalamnya aku juga menemukan sebuah kartu dan ucapan yang ditulis sendiri oleh papa.

“Papa dukung kamu meraih cita-cita. Jaga harga diri dan kehormatan keluarga.. InsyaAllah kamu akan jadi orang yang berguna.”

Aku sengat senang, bukan semata-mata karena laptop yang papa berikan. Tapi karena kasih sayang, perhatian, dan dukungan yang kurasakan. Sejak saat itu akupun berjanji pada diriku sendiri., aku akan bersungguh-sungguh dalam kuliah dan menjaga kepercayaan yang sudah mereka berikan.

Ketika sampai di rumah tante, kami beristirahat dan ngobrol santai di ruang makan. Pada suatu percakapan, papa mendadak jadi melankolis dan berucap, “Apa aku masih sempat melihat Dhini di  wisuda?”  nada bicara itu begitu pesimis dan mengandung kesedihan.

Anggota keluarga yang lain menghibur dan meyakinkan bahwa papa bisa. Sakit yang papa derita akan sembuh. Setelah ini papa akan semakin sehat dan akan menghadiri wisuda bahkan melihatku sampai berkeluarga.

**Namun Allah memiliki rencana berbeda… rencana yang mungkin saat itu sudah “disadari” oleh papa...
Ya Allah... sampaikan sejuta cinta, sayang, dan rindu untuknya disana...
 Sampaikanlah bahwa hingga kini hamba masih menggenggam erat impiannya dan berusaha mewujudkannya.**

Kamis, 23 Februari 2012

3 Putra dari Seorang Bapak yang akan Menghadapi Kematian


“Maaf pak,, saat ini kanker telah menyebar ke seluruh tubuh bapak. Kanker paru yang bapak derita adalah kanker paru karsinoma sel kecil yang tumbuh dan berkembang cepat.” dr. David menjelaskan dengan hati-hati, berusaha agar pasien dihadapannya tidak terlalu shock dengan apa yang ia sampaikan.

Laki-laki setengah baya yang ada dihadapannya adalah mantan perokok berat. Akhir-akhir ini ia mengeluh mengalami nyeri dada dan memutuskan untuk memeriksakannya.

dr.David kemudian menjelaskan lebih jauh, “Karsinoma sel kecil memang seringkali ditemukan terlambat sehingga penyembuhan secara medis sudah tidak mungkin lagi. Kelangsungan hidup bapak saya perkirakan berkisar 8 hingga 9 bulan lagi.”

Mendengar vonis dokter mengenai usianya yang tak lama lagi, bapak itu pun terdiam pasrah. Ia memutuskan untuk segera pulang dan memberitahukan hal tersebut kepada ketiga putranya.
Putra pertama bernama Harben, ia adalah putra kesayangan si bapak. Oleh karena itulah bapak itu memutuskan untuk memberitahu putra sulungnya terlebih dahulu.

“Wahai Harben anakku…kemarilah” si bapak memanggil anaknya dengan penuh kasih sayang.


“Ya ayah?” Harben pun berjalan menghampiri ayahnya.

“Sesungguhnya aku baru memeriksakan kesehatan ku, dan dokter berkata bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Mau kah kau memenuhi satu permintaan terakhirku?” si bapak menatap anaknya dengan penuh harap.

“Apa itu ayah?” Harben setengah penasaran


“Selepas kepergianku, bersediakah kau untuk selalu menemaniku di pemakaman ku nanti?

Harben kaget dengan apa yang telah disampaikan oleh ayahnya dan berkata, “Mana mungkin aku bisa melakukan itu ayah ! aku tidak bisa menemanimu di pemakaman !”

Harben pun pergi meninggalkan ayahnya yang bersedih karena ternyata anak kesayangannya menolak permintaannya.

Kemudian si bapak teringat dengan putra keduanya yang bernama Jake. Selama ini Jake selalu menjadi anak kebanggaannya

“Wahai Jake anakku…kemarilah” dengan lemah lembut si bapak memanggil anaknya.

“Ada apa yah?” dengan sedikit enggan ia memenuhi panggilan ayahnya.

“Sesungguhnya aku baru memeriksakan kesehatan ku, dan dokter berkata bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Mau kah kau memenuhi satu permintaan terakhirku?” si bapak mulai menumbuhkan harapan baru pada putra keduanya.

“Apa itu?” tanya Jake dengan sedikit ketus

“Selepas kepergianku, bersediakah kau untuk selalu menemaniku di pemakaman ku nanti?

Jake marah dengan apa yang telah disampaikan oleh ayahnya kemudian membentak , “Ayah gila ! aku tidak mau menemanimu di pemakaman !”


Jake segera meninggalkan ayahnya yang semakin bersedih karena ternyata anak kebanggaannya pun telah menolak permintaannya.

Dalam keadaan putus asa, si bapak teringat dengan anak bungsunya yang bernama Amsol. Dari ketiga putranya, Amsol adalah anak yang selama ini kurang mendapatkan perhatian bahkan kadang diabaikan olehnya. Si bapak merasa pesimis namun akhirnya ia memanggil anak bungsunya itu.

“Wahai Amsol anakku…kemarilah” dengan perasaan ragu si bapak memanggil anaknya.

“Iya ayah…ada apa?” dengan segera ia mendekati ayahnya

“Sesungguhnya aku baru memeriksakan kesehatan ku, dan dokter berkata bahwa usiaku tidak akan lama lagi. Mau kah kau memenuhi satu permintaan terakhirku?” si bapak merasa bahwa ia sudah tak memiliki harapan. Bagaimana mungkin anak yang selama ini sering ia sia-siakan mau memenuhi permintaannya….

“Tentu ayah, apa itu?” Amsol bertanya dengan sungguh-sungguh

“Selepas kepergianku, bersediakah kau untuk selalu menemaniku di pemakaman ku nanti?

Amsol tersenyum mendengar permintaan ayahnya dan dengan mantap berkata “Tentu saja ayah, aku akan selalu menemanimu disana.”

Bapak itu pun sangat terharu dengan jawaban anak bungsunya. Ia tak menyangka bahwa Amsol lah yang akan bersedia memenuhi permintaan terakhirnya.

Semenjak kejadian itu, si bapak mencurahkan sisa hidupnya untuk memperhatikan Amsol. Hingga malaikat maut menjemputnya…..

Dari cerita ini…. Putra kesayangan si bapak yang bernama “Harben” adalah “Harta Benda”, kemudian putra kebanggaannya yang bernama “Jake” adalah “Jabatan & Kedudukan”, sedangkan anaknya yang terakhir bernama “Amsol” adalah “Amal Soleh”.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9).

Dari Anas bin Malik RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”. (HR.Bukhari dan Muslim)