Selasa, 04 Agustus 2015

Janji Ibu

Bila ada hal yang tak pernah terbayangkan di dunia ini, mungkin itu adalah menyaksikan ibu kandungmu menikah lagi dengan laki-laki lain. Bahkan dia bukan laki-laki biasa, melainkan seorang ayah dan suami dari wanita lain !

Ya, ibuku menjadi istri kedua. Tanpa restu dari sang istri pertama dan kami sebagai anak-anaknya.

Bagai petir disiang bolong. Nyaris saja aku pingsan selepas menerima telepon dari keluarga di kampung. Seorang kerabat mengatakan, ibuku sudah menikah disana kemarin. Dihadiri oleh sanak saudara yang mendukung nikah siri itu.

Sungguh sampai hati kalian mengkhianati almarhum bapak. Sosok yang selama ini terlampau baik pada kalian... pada ibu.

Dengan jabatan dan kekayaannya semasa hidup, tentu tak sulit baginya bila ingin menikah lagi. Namun beliau memilih setia. Monogami hingga akhir hayatnya. Menjadikan ibuku yang pertama dan terakhir, wanita teristimewa yang diharapkan menjadi bidadari surga baginya.

Pupus sudah...

Bila bapak melihat ini tentu akan patah hatinya. Tangisku tak terbendung membayangkan betapa kecewanya bapak bila ia tahu tentang pilihan ibu untuk tak setia. Ibu memilih menyalahi janjinya. Janji tak menikah lagi bila kelak bapak lebih dulu tiada. Janji yang ia buat di saat-saat terakhir menjelang kematian bapak. Janji yang ia umbar pada siapa saja yang hadir di pemakaman suaminya. Janji itu palsu.

Kini ku tak tahu kemana lagi harus mencari cinta untuk ibu. Cinta yang selama ini membesarkanku dalam sekejap menghancurkan jiwaku.

Ibu...

Apa ini sungguh berarti untukmu?

Menjadi janda perusak rumah tangga orang lain. Lalu mengabaikan anak-anak mu bagai rongsok tak berarti.

Apa ini sungguh membuatmu bahagia?

Maka berbahagialah ibu di atas derita istri pertama, derita anak-anak yang broken home, dan derita almarhum mantan suamimu.

Berbahagialah ibu menjadi gunjingan para tetangga, menjadi sebab rasa malu kami memandang realita, menjadi ibu yang dimabuk cinta yang fana.

"Sudahlah Nina... "

Dalam lamunan panjangku, ternyata ada seseorang yang menghampiri dan menyapaku dengan lembut.

"...jangan terus larut dalam kesedihan. Kamu masih memiliki saudara, sahabat, dan tentu saja Allah yang selalu mendekap doa-doa kita semua. Lalui ujian ini dengan sabar dan ikhlas supaya kamu bisa naik kelas. Aku yakin, melalui kejadian ini Allah ingin menunjukan bahwa betapa kamu dan saudara-saudaramu adalah muslim yang kuat."

Aku pun tersenyum membalas ketulusannya. Katanya sahabat sejati itu 1:1.000. Dan bagiku, Gea adalah orang itu. Dia tetap bersamaku ketika yang lain memilih menutup mata dan telinga namun terus membuka mulutnya untuk hal tak berguna. Alhamdulillah dengan izinNya, ku temukan lagi hikmah lain dari sebuah malapetaka.

Cerpen by dhini iffansyah

Selasa, 14 Juli 2015

Takdir Cinta

Bila ku pandangi masa lalu..
Berbagai rasa menyelinap di hatiku.

Kadang tersenyum, kadang tertunduk malu.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari kisah itu..
Terimakasih pula atas segala kebaikanmu.

Ku sadari dengan diam ku telah menyakitimu.
Maaf telah mengabaikanmu..
Maafkan aku tak bisa menunggu.

Namun tahukah kamu ?

Dibalik keyakinan bahwa jodoh pasti bertemu..
Ada masa ketika hati hanya memihakmu..
Ada masa ketika ku terluka melepasmu..

Namun sekali lagi...
Bukankah cinta tak pernah meminta untuk menanti..
Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian. Atau mempersilakan, yang berarti pengorbanan.
Ia lebih dari sekedar janji-janji. Apalagi hujjah nanti-nanti.

(dhini iffansyah)

**Teka-teki cinta namanya, kadang kita merasa yakin dengan jawabannya namun ternyata hanya dugaan semata. Jauh sebelumnya Allah sudah menuliskan takdir bagi setiap hamba, termasuk kita. Oleh karena itu janganlah terlalu berduka maupun bahagia dengan ketetapanNya. Bersabar dan bersyukurlah niscaya itu yang terbaik bagi kita.**

Jumat, 03 Juli 2015

Dukung LGBT?

Kini istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender) semakin ramai diperbincangkan dan meresahkan sebagian masyarakat. Termasuk saya.

Resah dan sedih melihat orang-orang yang tergabung dalam komunitas maupun pendukungnya merasa bangga dengan pilihan dan perbuatannya. Apalagi diantara mereka pun ada yang mengaku muslim.

Hak asasi katanya. Lagipula sudah ada undang-undang yang melegalkan. Untuk apa lagi dipermasalahkan?

Bagaimana mungkin kami tidak mempermasalahkan, sementara Allah sangat membenci perbuatan kalian...?

Terlebih sebelum undang-undang kalian disahkan, jauh sebelumnya Sang Penguasa Langit & Bumi telah mengesahkan undang-undang dan aturanNya. Namun ternyata masih ada saja manusia sombong yang berani menentang firman Tuhan.

Sudah lupakah kalian dari mana dan akan kemana kita setelah ini?

Sekuat dan sehebat itukah kalian hingga mampu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah azza wa jalla?

Tidaklah Allah mengharamkan sesuatu, kecuali hal tersebut buruk bagi kita. Karena sesungguhnya Allah hanya menginginkan kebaikan bagi hambaNya.

Mengapa Allah mengharamkan liwath (homoseks)?

Dengan alasan yang sama mengapa Allah melarang khamar (miras), riba dan zina.

Yakni karena teramat besar keburukan yang ada padanya.

Sebenarnya saya takut bila kesabaran Tuhan sudah mencapai ambang batas dan akhirnya turunlah azab kepada setiap manusia, hingga tak lagi memandang apakah ia orang fasik ataukah termasuk yang beriman.

Saya bahkan lebih takut bila kelak ditanya hal apa yang sudah saya upayakan ketika mengetahui hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Mungkin kalian bosan mendengar cerita kaum Nabi Luth. Mungkin kalian kira itu hanya dongeng dan isapan jempol semata. Namun mungkin ada baiknya kalian belajar dari kasus kebakaran 500 gay di Taiwan usai menggelar pesta pelangi.

Percayalah, itu bukan sekedar kecelakaan. Sebagian dari kalian diberi kesempatan untuk "mencicipi" panasnya api yang sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding siksa yang menanti di akhirat sana.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Panasnya) api yang kalian (Bani Adam) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya, “Demi Allah, api dunia itu sudah cukup wahai Rasulullah!” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya panasnya api neraka melebihi panas api dunia sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim)

Menyesal di dunia, insyaallah masih berkesempatan untuk perbaiki semuanya. Menyesal di akhirat, sungguh merugi lagi sia-sia.

Bila Allah menawarkan pahala berupa surga yang kekal dengan taat padaNya, mengapa justeru memilih jalan lain demi memuaskan nafsu yang sementara?

Bila masih banyak kebaikan yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wata'ala, mengapa memilih keburukan yang diharamkan oleh-Nya?

Apakah murka dan laknat Allah lebih disukai dibandingkan rahmat dan kasih sayangNya?

Adakah setan telah memperindah perbuatan buruk yang kalian lakukan?

Astaghfirullahal'adzim...

"Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal." (HR. Bukhari-Muslim)

(dhini iffansyah)

Sumber foto: elshinta.com