Jumat, 17 Juni 2022

Lintang

Namanya Lintang, teman karibku semasa masih duduk di bangku SMP. Kami sekelas ketika kelas 3. Pada tahun terakhir kami berjuang mengenakan seragam putih-biru.

Lintang cukup berbeda dengan teman-teman perempuanku yang lain. Kesan tomboy adalah sesuatu yang dengan mudah orang lain dapatkan tentangnya. Namun bagiku, Lintang anak yang cerdas, energik, berani, tegas, serta memegang teguh apa yang menjadi prinsipnya. Hal itu barangkali jarang ditemui pada seseorang yang baru menginjak usia 14 tahun.

Aku menyukai Lintang sebagai teman sekelas sekaligus teman diskusi. Sebagai Si Ranking 1 tentu banyak yang bisa ku pelajari darinya. Sebenarnya Lintang adalah tipe anak yang enggak neko-neko dan easy going terhadap siapa saja kecuali dengan orang yang sok/belagu, boleh dikatakan itu pengecualian. Aku yang saat itu tak luput dari sasaran bully merasa lebih comfort and safety kalau bersama Lintang. She's like a wondergirl for me!.

Namun selepas kelulusan, aku pun mulai jarang berinteraksi dengan Lintang karena kami bersekolah di SMA yang berbeda. Meski demikian terkadang kami masih bertukar pesan dan bertanya kabar masing-masing. Itu berlanjut selama bertahun-tahun hingga kami lulus kuliah. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa semua kontak dan akun sosial media Lintang sudah tidak aktif.

Kemana perginya Lintang?

Aku pun memutuskan untuk bertanya kepada teman lain yang barangkali tahu kabar tentangnya. Singkat cerita aku menemukan akun instagram Lintang yang baru and I feel something bad happened.

Bukannya Lintang memposting hal-hal aneh, dia bahkan nyaris tidak memposting apa-apa. Dan itu bukan Lintang yang selama ini ku kenal.

Aku lalu mengirimkan direct message kepada Lintang yang kemudian mengirimkan nomor kontak WhatsApp-nya yang baru. Meski banyak hal ingin ku tanyakan saat itu juga, tapi aku berusaha menyimpannya hingga hari kami bisa bertemu secara langsung.

Selang dua bulan setelah janji temu yang berulang kali gagal, akhirnya kami bisa bertemu siang ini. Lintang menjemputku di kantor untuk makan siang di luar. Ya.. dia terlihat masih seperti Lintang yang sama. Lintang yang selalu tersenyum manis ketika mengobrol denganku di kelas, 20 tahun silam. 

Tak perlu waktu lama. Di dalam mobil yang terus melaju, Lintang pun menceritakan kabarnya.

Kabar yang sudah ku terka sebelumnya, namun masih berharap bahwa itu hanya bagian dari over thinking ku saja.

Lintang akan segera bercerai.

Bahkan lebih buruk. Dia yang digugat cerai meski bukan dia yang berselingkuh.

Serasa memasuki plot drama series The World of Married dan Layangan Putus. Tapi sekarang pemeran utama wanitanya adalah sahabatku sendiri.

Sambil tetap tersenyum, Lintang terus bercerita dengan air mata yang tertahan dipelupuk. Rintik hujan membuat suasana siang itu semakin sendu. Sedang aku sekuat tenaga menahan diri, menguatkan hati agar tak menangis dihadapan Lintang. Ya Tuhan... betapa malang perempuan dihadapanku ini. Dikhianati oleh laki-laki yang ia percayai dan ia dampingi selama hampir satu dekade.

Aku lalu bertanya perihal lost contact kami. Mengapa ia mengubah akun sosmed dan nomor ponselnya..? Jawaban Lintang selanjutnya pun tak kalah membuatku sesak.

Semua akun sosmed, nomor ponsel, hingga e-mail di ambil alih oleh suaminya. Lintang juga tak diizinkan bekerja. Ia hanya boleh mengurus keperluan rumah tangga. Terisolasi namun tidak difasilitasi.

Lintang mengaku mencoba menerima keputusan suaminya itu. Meski tak paham dengan alasan sebenarnya. Hingga belakangan suaminya berubah. Tak lagi memedulikan keluarga bahkan sampai tahap berperilaku kasar dan arogan. Episode selanjutnya begitu mudah ditebak. Perempuan lain hadir ditengah mereka. Bukan satu atau dua.... Tapi banyak perempuan mengaku telah berhubungan dengan suaminya. Sukses karier tak membuat suaminya lebih mensyukuri Lintang sebagai istri yang setia membersamainya semenjak menjadi karyawan biasa. Laki-laki itu bahkan mengabaikan perempuan yang menjadi ibu dari darah dagingnya sendiri. Inikah alasanmu membatasi dan mengurung Lintang di rumah? Mematikan setiap potensi dan mimpinya, agar kamu bisa bebas bersenang-senang di luar sana. 

Betapa mudahnya manusia berubah.
Betapa mudahnya manusia lupa.
Betapa mudahnya manusia membuang sesuatu yang dulu berharga baginya.

Ah, sudahlah... semua itu hanya membuktikan bahwa he doesn't deserve it at all
Lintang kami terlampau baik untuk laki-laki macam dia.

But you know what?

Hal yang lebih mencengangkan lagi adalah sikap pelakor yang begitu bangganya setelah merusak rumah tangga orang lain. Hingga menyuruh Lintang introspeksi diri. Begitu tidak tahu malu dan vulgar mengungkapkan setiap perilaku perselingkuhannya. Bahkan mengaku pernah melakukan hubungan di dalam mobil yang notabene adalah mobil yang dipinjamkan oleh orangtua Lintang.

Is it true that life is drama?? Or life is more dramatic than drama itself.
Anyway.... Cheating with a good person is like throwing away a diamond and taking a stone.
So please don't forget ... what did you do and who you are exactly? diamond or stone? 

Dear Lintang...
Teruslah bersinar seperti namamu
Percayalah, awan kelam ini akan segera berlalu
Tuhan tidak akan pernah mengabaikan perihmu
Dia tengah menyiapkanmu memasuki skenario cerita baru
We love you... and always there for you...

Jumat, 11 Maret 2022

Numb

Barangkali cinta itu sudah terkikis
Dengan ujaran kekecewaan darimu
Tentu saja.. 
Aku memang manusia yang memiliki segunung kekurangan
Aku sadar.. 
Standar langitmu bukan sesuatu yang bisa ku kejar
Karena itu aku berhenti
Berhenti mengharapkan cinta yang tak bisa kepenuhi syaratnya
Aku kira kita bisa sama-sama hidup tenang setelahnya
Tetap berdampingan meski tanpa cinta
Namun kecewa itu kini menjadi benci
Membuahkan berbagai caci maki
Yang tak ku mengerti, aku bahkan tak menangis lagi
Mungkinkah aku tak sekedar berhenti? 
Melainkan juga telah mati. 

Sabtu, 04 September 2021

Ikhtiar Mencari Rezki

Jakarta, 2016.

Semenjak pagi langit bolak-balik menurunkan hujan. Cuaca kota Jakarta yang galau seolah mewakili suasana hati seorang lelaki yang tampak pasrah  memandang  keluar dari jendela kamar kos-nya. Hari ini pun dia harus merelakan rezki yang tak ditakdirkan untuknya...

*** 

Kota Malang, 2009.

Yulia Rezki Dinanti atau lebih akrab disapa Uli. Secara fisik bisa dibilang rata-rata. Di luar sana masih sangat banyak yang lebih cantik dan stylish darinya. Namun kepribadiannya yang tak biasa telah membuat seorang lelaki yang cukup populer di Kampus Putih itu rela melakukan nyaris apa saja untuk mendekatinya.

Lelaki itu adalah Tiar, lengkapnya Raden Ikhtiar Al Fathan. Entah berapa banyak mantan kekasih yang sudah dimilikinya, belum termasuk TTM alias teman tapi mesra yang tersebar di seluruh angkatan. Bukan berarti Tiar tipe lelaki brengsek. Barangkali dia justru memiliki hati yang terlalu baik, hingga tak tega menolak setiap ungkapan cinta yang ditujukan untuknya. Seringkali perpisahan itu malah disebabkan karena dia telah diselingkuhi. Meski demikian, Tiar tak pernah berduka terlalu dalam. Sederet perempuan cantik itu tidak benar-benar cantik dimata Tiar. Semudah dia menerima, semudah itu pula dia melepaskan. 

Lantas apa yang membuat Uli berbeda? 
Uli yang nota bene adalah adik tingkat Tiar, adalah perempuan pertama yang membentangkan jarak dan memberi batasan yang jelas dengannya. Disaat perempuan lain berlomba mencuri perhatian dan berusaha mendekatinya. Tiar tentu tertegun sekaligus penasaran dengan sikap Uli yang terkesan sangat idealis. 

Sebenarnya bukan karena Uli tak tertarik dengan Tiar. Sedari awal dia menjadi mahasiswi baru, sosok Tiar yang good looking dan easy going seringkali menjadi buah bibir di kalangan para mahasiswi. Teman dekatnya kala itu pun terang-terangan bercerita bahwa telah mengirimkan surat cinta kepada Tiar selepas kegiatan ospek berakhir. 

Sebagai mahasiswi perantauan, sedikit banyak Uli merasa terbebani untuk bisa segera menyelesaikan kuliah. Keluarganya memang tidak miskin, tapi tidak juga bergelimang harta. Ayahnya yang merupakan pensiunan PNS, kini hanya menjalankan bisnis kecil-kecilan. Uli sadar bahwa dirinya harus fokus. Sebab biaya hidup dan kuliah akan terus mengalir hingga dia pulang ke kampung halaman dengan gelar sarjana. Asmara? Ah, itu bukanlah prioritas. Menjalin hubungan sekarang toh akan menjadi terlalu dini. Masih banyak impian yang ingin Uli realisasikan. Mungkin nanti ketika dia siap menikah, dia akan mempertimbangkannya lagi. Tapi untuk saat ini, jawabannya jelas tidak.

*** 

Setelah setahun berlalu, Tiar akhirnya menemukan alasan untuk bisa selalu bertemu Uli, yakni dengan cara bergabung di lembaga yang sama. Unit Pelayanan Teknis Bimbingan Konseling (UPT BK) pun menjadi saksi perjuangan Tiar. Rekan Tiar sesama aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sampai geleng-geleng kepala melihat kegigihan Tiar kali ini. "Semoga semangat kamu nyari dana buat kegiatan baksos kita nanti engga kalah dengan semangat kamu ngejar cewek ya, Yar!." Ujar Ibnu, Kepala Divisi Humas BEMFA Psikologi, setengah mengompori. 

Tiar sama sekali tak mau ambil pusing. Baginya apa yang ia rasakan lebih penting ketimbang pendapat orang lain. Semenjak kenal dengan Uli, Tiar merasa lebih bahagia. Perasaan bahagia itu tidak biasa. Dia sendiri kesulitan mendeskripsikannya. Tiar tersenyum hanya dengan memikirkan akan ada kemungkinan berpas-pasan  dengan Uli di lorong Gedung Kuliah Bersama (GKB). Tiar bahkan dengan mudahnya terpesona ketika Uli meminjamkan pulpen untuknya. Cukup dengan melihat Uli, sudah membuat Tiar bahagia. Oleh karena itu, Tiar ingin membalasnya dengan berusaha membuat Uli bahagia setiap hari. 

Berbanding terbalik dengan Tiar, Uli merasa canggung dengan gosip yang beredar tentang mereka. Sepertinya semua orang sudah tahu tentang perasaan Tiar padanya. Termasuk Ibu Hamidah, Kepala UPT BK, yang seolah sudah resmi menjadi bagian dari tim sukses cinta Tiar. "Uli dan Tiar nanti temani Ibu ya hari Minggu ini! Kita ada klien ABK*. Kalian berdua harus datang duluan. Siapkan alat tes dan ruang observasinya.". Titah Bu Hamidah dihadapan rekan BK lainnya yang langsung disambut  mereka dengan cieee menggoda. 

Uli hanya bisa mengangguk, sedang Tiar tak bisa menyembunyikan ekspresi bahagianya hingga membuat ruangan semakin gaduh. Sebenarnya Uli sangat benci situasi semacam itu, tapi dia tahu bahwa tak satupun dari orang-orang itu pantas ia benci. Uli menganggap ibu Hamidah sudah seperti ibunya sendiri. Kemudian Mas Raka, Tasya, Dwi, dan rekan BK lainnya merupakan teman yang selalu setia membantunya selama ini. Lalu Tiar... Tiar juga tak melakukan kesalahan apapun. Apa yang salah dengan menyukai seseorang? Tiar tak pernah memaksa atau mengganggunya. Meski demikian, Uli selalu bisa merasakan kehadiran dan perhatian Tiar untuknya. 

Pernah suatu ketika, Uli kesulitan mendapatkan narasumber transgender sebagai tugas kuliah. Tiar yang mengetahui hal itu langsung mencarikan kontak narasumber yang bisa dihubungi dan merekomendasikan tempat yang cocok untuk melakukan wawancara. Disaat yang lain, Uli yang sangat menggemari penulis Asma Nadia, tiba-tiba saja mendapatkan 3 buku terbaru Asma Nadia lengkap dengan tanda tangannya!. Hadiah-hadiah itu tidak pernah diserahkan langsung oleh Tiar. Tiar bahkan tidak menyebutkan namanya. Namun Uli tahu bahwa itu pasti darinya. Memang siapa lagi? 

*** 

(bersambung insya Allah) 

*ABK = Anak Berkebutuhan Khusus