Selasa, 14 Juli 2015

Takdir Cinta

Bila ku pandangi masa lalu..
Berbagai rasa menyelinap di hatiku.

Kadang tersenyum, kadang tertunduk malu.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari kisah itu..
Terimakasih pula atas segala kebaikanmu.

Ku sadari dengan diam ku telah menyakitimu.
Maaf telah mengabaikanmu..
Maafkan aku tak bisa menunggu.

Namun tahukah kamu ?

Dibalik keyakinan bahwa jodoh pasti bertemu..
Ada masa ketika hati hanya memihakmu..
Ada masa ketika ku terluka melepasmu..

Namun sekali lagi...
Bukankah cinta tak pernah meminta untuk menanti..
Ia mengambil kesempatan, itulah keberanian. Atau mempersilakan, yang berarti pengorbanan.
Ia lebih dari sekedar janji-janji. Apalagi hujjah nanti-nanti.

(dhini iffansyah)

**Teka-teki cinta namanya, kadang kita merasa yakin dengan jawabannya namun ternyata hanya dugaan semata. Jauh sebelumnya Allah sudah menuliskan takdir bagi setiap hamba, termasuk kita. Oleh karena itu janganlah terlalu berduka maupun bahagia dengan ketetapanNya. Bersabar dan bersyukurlah niscaya itu yang terbaik bagi kita.**

Jumat, 03 Juli 2015

Dukung LGBT?

Kini istilah LGBT (Lesbian, Gay, Bisexsual, Transgender) semakin ramai diperbincangkan dan meresahkan sebagian masyarakat. Termasuk saya.

Resah dan sedih melihat orang-orang yang tergabung dalam komunitas maupun pendukungnya merasa bangga dengan pilihan dan perbuatannya. Apalagi diantara mereka pun ada yang mengaku muslim.

Hak asasi katanya. Lagipula sudah ada undang-undang yang melegalkan. Untuk apa lagi dipermasalahkan?

Bagaimana mungkin kami tidak mempermasalahkan, sementara Allah sangat membenci perbuatan kalian...?

Terlebih sebelum undang-undang kalian disahkan, jauh sebelumnya Sang Penguasa Langit & Bumi telah mengesahkan undang-undang dan aturanNya. Namun ternyata masih ada saja manusia sombong yang berani menentang firman Tuhan.

Sudah lupakah kalian dari mana dan akan kemana kita setelah ini?

Sekuat dan sehebat itukah kalian hingga mampu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah azza wa jalla?

Tidaklah Allah mengharamkan sesuatu, kecuali hal tersebut buruk bagi kita. Karena sesungguhnya Allah hanya menginginkan kebaikan bagi hambaNya.

Mengapa Allah mengharamkan liwath (homoseks)?

Dengan alasan yang sama mengapa Allah melarang khamar (miras), riba dan zina.

Yakni karena teramat besar keburukan yang ada padanya.

Sebenarnya saya takut bila kesabaran Tuhan sudah mencapai ambang batas dan akhirnya turunlah azab kepada setiap manusia, hingga tak lagi memandang apakah ia orang fasik ataukah termasuk yang beriman.

Saya bahkan lebih takut bila kelak ditanya hal apa yang sudah saya upayakan ketika mengetahui hal ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Mungkin kalian bosan mendengar cerita kaum Nabi Luth. Mungkin kalian kira itu hanya dongeng dan isapan jempol semata. Namun mungkin ada baiknya kalian belajar dari kasus kebakaran 500 gay di Taiwan usai menggelar pesta pelangi.

Percayalah, itu bukan sekedar kecelakaan. Sebagian dari kalian diberi kesempatan untuk "mencicipi" panasnya api yang sebenarnya bukanlah apa-apa dibanding siksa yang menanti di akhirat sana.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “(Panasnya) api yang kalian (Bani Adam) nyalakan di dunia ini merupakan sebagian dari tujuh puluh bagian panasnya api neraka Jahannam.” Para sahabat bertanya, “Demi Allah, api dunia itu sudah cukup wahai Rasulullah!” Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya panasnya api neraka melebihi panas api dunia sebanyak enam puluh kali lipat.” (HR. Muslim)

Menyesal di dunia, insyaallah masih berkesempatan untuk perbaiki semuanya. Menyesal di akhirat, sungguh merugi lagi sia-sia.

Bila Allah menawarkan pahala berupa surga yang kekal dengan taat padaNya, mengapa justeru memilih jalan lain demi memuaskan nafsu yang sementara?

Bila masih banyak kebaikan yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wata'ala, mengapa memilih keburukan yang diharamkan oleh-Nya?

Apakah murka dan laknat Allah lebih disukai dibandingkan rahmat dan kasih sayangNya?

Adakah setan telah memperindah perbuatan buruk yang kalian lakukan?

Astaghfirullahal'adzim...

"Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal." (HR. Bukhari-Muslim)

(dhini iffansyah)

Sumber foto: elshinta.com

Selasa, 30 Juni 2015

Ta'aruf

"Gimana nak? Kamu tegang?" Ibu bertanya penuh selidik kepada putri bungsunya.

"Enggak, biasa aja." Ujar Ira jujur.

Spontan kak Ray dan istrinya yang duduk di kursi mobil bagian depan tertawa mendengar jawaban adik mereka yang memang tampak begitu santai.

"Kok malah ibu yang tegang ya..?!" Ibu keheranan melihat sikap Ira yang hanya tersenyum manis seperti biasa.

Sekitar dua minggu yang lalu, Ira mendapatkan e-mail dari seorang teman. Isinya adalah biodata ikhwan yang berniat ta'aruf dengannya. Teman Ira tampak bersemangat untuk menjodohkan mereka, karena menurutnya diantara Ira dan si ikhwan ini ada kesamaan.

Secara latar belakang keluarga, pendidikan dan pekerjaan sama sekali tak ada masalah. Bahkan boleh dikatakan ideal. Perihal agama pun insyaallah baik, karena ikhwan ini rajin ikut pengajian sekaligus anggota muda di sebuah Masjid ternama di kotanya.

Setelah berkutat dengan hati dan pikirannya sendiri, akhirnya Ira bisa mengutarakan perihal tersebut pada keluarganya. Dan hari ini adalah hari yang mereka sepakati untuk bertemu dengan si ikhwan.

Pertemuan di hari Jum'at bulan Ramadhan. Tak ada hal khusus yang dipersiapkan selain booking tempat makan untuk buka puasa bersama.

Selama perjalanan di dalam mobil, Ira hanya memandang keluar jendela. Mempertimbangkan apa saja yang penting untuk nanti ditanyakan. Terlintas percakapannya dengan kak Ray sebelum tadi mereka berangkat.

"Nanti adik perlu waktu kan untuk memutuskan?" Tanya kak Ray di depan rumah mereka.

"Iya." Jawab Ira singkat.

"Adik mau minta waktu berapa lama?"

"Kalau orangnya enggak keberatan, sekitar satu minggu."

"Oke. Nanti kakak sampaikan." Ujar kak Ray tersenyum meyakinkan.

Setelah kepergian bapak 6 tahun lalu, secara otomatis kak Ray menggantikan peran almarhum sebagai kepala keluarga dan wali bagi adik perempuannya. 

Sebenarnya kak Ray juga merasa sedikit gugup, sebab ini pertama kalinya sang adik ingin mengenalkan seorang laki-laki padanya untuk ta'aruf. Kak Ray bahkan sempat browsing film "Ketika Cinta Bertasbih" di youtube sebagai rujukan apa saja yang harus dilakukan dan dibicarakan.

Waktu terasa berlalu begitu cepat. Adik kecilnya akan berusia 25 tahun bulan depan dan jika proses ta'aruf lancar maka insyaallah ia pun akan segera menikah tahun ini juga.

Sesekali kak Ray melirik Ira dari kaca spion mobil. Hari ini adiknya mengenakan gamis warna kuning kunyit favoritnya serta kerudung warna hitam. Sangat sederhana namun tetap cantik. Kak Ray berharap siapapun laki-laki yang kelak menjadi suami Ira, dapat selalu menjaga dan menyayanginya.

Setibanya di rumah makan khas Sunda, Ira sekeluarga pun langsung menuju meja yang mereka pesan. Ada dua meja dan 8 kursi. Ira duduk disamping ibu, berseberangan dengan Kak Ray dan istrinya. Masih ada 4 kursi kosong untuk berjaga-jaga bila ternyata si ikhwan datang bersama teman atau keluarganya.

Tempat itu sudah cukup ramai dengan para pelanggan yang ngabuburit. Tak lama setelah itu  tampak seorang pelayan yang menempel kertas bertuliskan "Penuh" di pintu masuk.

"Mana orangnya, nak? Sudah datang belum? Kamu tahu enggak ciri-cirinya?" Ibu langsung menyerang Ira dengan pertanyaan seusai mereka duduk.

"Mungkin sebentar lagi, Bu. Iya tahu kok." Ujar Ira sambil menyebar pandangan.

"Assalaamu'alaykum." Seorang laki-laki berkacamata dengan baju koko warna coklat tua dan celana kain di atas mata kaki datang memberi salam kepada Ira sekeluarga.

"Wa'alaykumussalaam, silahkan duduk." Kak Ray berdiri dan menjabat tangan si pemberi salam kemudian memberi isyarat untuk duduk tepat disampingnya.

Untuk beberapa saat, Ira, ibu dan iparnya hanya diam saja. Hanya terdengar suara kak Ray dan si ikhwan yang tengah asyik mengobrol basa-basi.

Pertanyaan seputar pekerjaan, alamat rumah, dan kondisi keluarga yang sebenarnya sudah terjawab di biodata si ikhwan. Sepertinya kak Ray sedang melakukan pemanasan sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius.

Jam menunjukan pukul 18.15 wita. Masih ada waktu untuk mengajukan beberapa pertanyaan. Ira akhirnya memutuskan untuk tak membuang kesempatan.

"Orangtua sudah setuju atau gimana?" Ira memulai investigasi nya.

"Orangtua insyaallah setuju. Beliau ngikut saja." Ujar si ikhwan mantap.

"Ooh, memang rencananya mau nikah kapan?"

"Kalau itu diserahkan ke pihak perempuannya." Jawab si ikhwan sambil tersenyum.

"Setelah menikah, aku boleh tetap bekerja?"

"Boleh."

"Oh iya, soal memiliki anak. Apa harus lebih dari 4?"

Kali ini si ikhwan tertawa. "Iya karena Rasulullah itu akan bangga melihat umatnya yang banyak."

Ira terdiam beberapa saat. Istri kak Ray memberi isyarat untuk tenang.
"Jangan khawatir, masalah anak itu masih bisa dinegosiasikan setelah berumah tangga. Suami juga tak akan sampai hati membiarkan isterinya kewalahan mengurus anak." Kira-kira itulah yang ingin istri kak Ray sampaikan melalui tatapan teduhnya. Ira pun tersenyum berterimakasih.

"Kalau dari kamu enggak ada yang mau ditanyakan?" Tanya Ira penasaran. Sebab dari tadi hanya ia yang bertanya.

"Sekarang kesibukan Ira apa saja?"

"Aku di rumah aja, sambil jualan on line. Sama ikut di kegiatan dakwah."

Si ikhwan hanya manggut-manggut. Tidak ada tanggapan maupun pertanyaan susulan.

"Ada kepikiran poligami?" Tanya Ira akhirnya.

Si ikhwan tertawa seperti sebelumnya namun kali ini juga tampak sedikit salah tingkah. "Satu aja belum punya." Ujarnya.

Ira kecewa mendengar jawaban yang tak menjawab itu. Bagi Ira pertanyaan itu sangat penting.

"Kalau sudah ada satu?" Ira bersikeras untuk mendapat jawaban.

"Poligami itu sunnah. Tapi berbuat adil itu wajib. Dan adil itu susah. Kita aja belum tentu bisa adil sama diri sendiri, orangtua dan satu istri. Jadi belum ada kepikiran kesana."

Penjelasan yang terdengar lebih serius itu belum juga melegakan hati Ira. Dalam hatinya berbisik "Berarti bila suatu saat dia mengganggap dirinya bisa adil maka kemungkinan berpoligami itu ada."

Ibu yang duduk disebelah Ira seperti menangkap getar keresahannya. Beliau pun memberi sentuhan lembut untuk menguatkan putrinya.

Azan maghrib menggema menyelamatkan suasana. Mereka pun menghentikan pembicaraan dan mulai membaca doa masing-masing lalu menyantap hidangan buka puasa yang telah disajikan.

Acara ta'aruf pun selesai setelah mereka sholat berjama'ah di mushola. Kak Ray tak lupa menyampaikan tentang jawaban yang insyaallah akan diberikan seminggu lagi.

"Enggak masalah. Tergesa-gesa itu sifatnya setan. Jadi silahkan pikirkan dulu baik-baik." Ujar si ikhwan tak keberatan.

Keluarga Ira dan si ikhwan pun saling berpamitan di bawah langit malam yang menjadi saksi pertemuan yang masih menyisakan pertanyaan besar. Apakah dia benar jodoh  yang dikirimkan Tuhan sebagai salah satu berkah bulan Ramadhan? Wallahu'alam.

Cerpen by.dhini iffansyah.