Rabu, 20 Januari 2016

Curahan Hati Rindu

"Wid, kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu bertanya sambil terus memotong kecil-kecil chicken steak dihadapannya.

"Hah?" Widya yang tengah asyik menyeruput avocado float-nya cukup kaget dengan pertanyaan Rindu yang tiba-tiba.

Weekend ini seperti biasa mereka berdua menyempatkan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama disela-sela kesibukan perkuliahan.

Dua cewek yang akrab sejak duduk di bangku SMP ini memang sudah sangat dekat bahkan sudah seperti saudara kandung. Meskipun karakter mereka jauh berbeda, Rindu yang feminin merasa nyaman dengan sosok Widya yang agak tomboy dan apa adanya.

Kadang Widya yang datang ke kosan Rindu, atau sebaliknya. Tapi kali ini mereka memutuskan untuk mencoba tempat nongkrong yang katanya lumayan cozy. Karena terbilang masih baru alhasil banyak orang yang datang kesana. Untungnya Rindu dan Widya masih sempat mendapatkan kursi yang diletakan di depan resto.

"Kamu lebih suka gitaris atau penulis?" Rindu mengulangi pertanyaannya dan kali ini sambil menatap Widya dengan lekat.

"Eeeng maksud pertanyaannya apa nih?" Widya balik bertanya sambil membalas tatapan Rindu dengan curiga.

"Engga ada maksud apa-apa. Iseng aja tanya. Jawab aja apa susahnya sih?!" Rindu memanyunkan bibirnya pura-pura ngambek.

"Iya..iya.... Kayaknya sih lebih suka penulis." Jawab Widya seadanya sambil mengaduk-aduk minumannya dengan santai.

"Kenapa?"

"Ya engga apa-apa. Iseng aja jawab gitu." Widya membalas kata-kata sahabatnya dengan raut wajah usil.

"Iiih nyebelin! Orang serius juga tanyanya." Kali ini Rindu benar-benar sewot dengan respon Widya. Selembar tisu yang diletakan rapi disamping piringnya pun melayang ke wajah manis sahabatnya.

"Hehehehe.... Ampun, just kidding kali sis." Widya semakin tertawa renyah karena berhasil memancing emosi Rindu.

"Lagian sejak kapan sih kamu jadi plin-plan gini? Tadi katanya iseng terus sekarang serius. Jadi yang bener yang mana?"

"Yaa... Iseng... tapi serius juga..." Rindu mendadak jadi salah tingkah di depan Widya.

"Haduh Riiin...! Kamu itu engga bakat bohong. Sudahlah terus terang aja. Kamu pasti lagi galau kan?"

"Engga kok... Ngapain juga ngegalauin yang belum jelas."

"Nah! Ketahuan kan!"

"Apanya?"

"Ya itu tadi. Pasti sekarang kamu lagi dideketin sama cowok yang engga jelas." Widya menebak dengan pede.

"Engga gitu Widya. Kamu kok bisa cepet banget sih ngambil kesimpulan?" Rindu menggelengkan kepala dengan heran.

"Kalau bukan cowoknya yang engga jelas...... berarti kamunya dong?!"

Rindu terdiam mendengar tudingan Widya yang semakin membuatnya yakin.

"Kamu jadi di ta'aruf-in sama guru ngaji kamu itu? Terus kabar cowok yang dikenalin sama kakak kamu kemarin gimana?" Widya bertanya penuh selidik.

Melihat ekspresi Rindu yang gelisah, akhirnya ia bisa memahami situasinya. Dan sekarang ia berpikir beberapa saat sebelum angkat bicara.

"Gitaris atau penulis ya? Menurutku better penulis lah. Penulis itu kan biasanya smart, romantis dan setia." Ujar Widya berteori.

"Memangnya gitaris engga?"

"Mungkin ada... tapi jarang. Kamu lihat aja tuh temen-temen SMA kita yang dulu gitaris band. Pada malas belajar dan sering gonta-ganti pacar kan?"

"Kayak si Bayu?" Rindu buru-buru menutup mulutnya. Ia keceplosan menyebut nama keramat itu.

"Biasa aja keleees. Aku sudah lama move on dari dia. Ngapain juga aku mikirin tukang selingkuh?"

Rindu tersenyum lega. Sebelumnya Widya selalu marah kalau mendengar nama Bayu disebut.

Sebenarnya Widya memang sempat sangat sakit hati atas perlakuan Bayu yang kepergok selingkuh berulang kali. Namun semenjak ia suka ikut-ikutan Rindu ke pengajian, sedikit demi sedikit ia menyadari kekeliruannya dalam hal berpacaran dan membuat mata hatinya semakin terbuka.

Setelah melihat Widya baik-baik saja, Rindu pun memberanikan diri melanjutkan surveinya.

"Tapi kalau si penulis ini usianya lebih muda gimana?"

"Maksud kamu brondong??!" Widya membelalakan matanya tak percaya.

"Cuma beda beberapa tahun kok..." Ujar Rindu seolah membela diri.

"Tetep aja kan brondong." Widya bertahan dalam pendiriannya dan membuat Rindu pasrah.

"So...? What do you think?" Rindu mendesak Widya memberikan pendapatnya.

Mendapati wajah Rindu yang bertambah galau, Widya pun menghela nafas panjang.

"Rindu sayaaang. Apa yang aku pikirin itu engga penting. Kamu itu harusnya denger kata hati kamu sendiri. Karena nanti yang menjalani itu semua adalah kamu. Mau dia gitaris atau penulis, mau lebih tua atau lebih muda, itu semua tergantung kamu. Pilih aja yang sesuai sama hati kamu. Simple kan?"

"Iya... Tapi aku juga masih belum yakin Wid. Darimana coba aku bisa tahu kalau orang itu sesuai atau engga sama aku?"

"Kalau itu kamu tanya aja sama Tuhan. Kan Tuhan Maha Tahu segalanya."

"Tanya sama Tuhan...?"

"Iya Tuhan. Tuhan yang nyiptain kita itu pastinya tahu juga dong apa yang sesuai untuk kita. Jadi kamu tanya aja sama Tuhan. Apa ya tuh namanya? Rasanya aku pernah denger deh di pengajian temen-temen kamu itu."

"Istikharah?"

"Yap itu dia. Istikharah!"

"Kalau setelah istikharah ternyata sama aja gimana?"

"Heem.. Kalau setelah ISTIKHARAH sama aja berarti kamu harus banyakin ISTIGHFAR Rin, biar engga galau terus-terusan."

"WIDYAAA!!!" Tanpa sadar Rindu meneriaki sahabatnya yang kini kembali cengengesan.

Sebelum mengomel lebih jauh Widya pun mencomot kentang goreng miliknya lalu menyuapkannya pada Rindu.

"Peace...." Widya memasang senyum lebarnya sambil mengibar-ngibarkan tisu yang tadi dilempar Rindu padanya.

"Keep calm and trust Allah. Kamu kan yang selalu bilang kayak gitu ke aku? Jadi engga ada alasan untuk pesimis. Tuhan pasti ngasih kamu jawaban dan jalan keluar terbaik."

Rindu tertegun dengan pernyataan sahabatnya. Semua itu memang benar. Tak seharusnya kita ragu setelah mengaku beriman.

"Masyaallah Widya.. Makasih ya sudah ngingatin aku."

"With pleasure sis."

"Tapi darimana kamu belajar ngomong bijak kayak gitu?"

"Dari seorang sahabat yang sedang merindukan belahan jiwanya. Semoga aja kerinduan dia segera terobati."

"AAMIIN." Pekik Rindu dan Widya bersamaan.

Dua sejoli itu akhirnya tertawa bahagia dan melanjutkan menikmati sore mereka yang teduh di bawah langit kota Banjarbaru.

Cerpen by dhini iffansyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan lidah dan perbuatan tangannya. (HR.Bukhori)