Rabu, 23 Maret 2016

Khitbah (Pinangan)

Bismillah. Rindu, mohon maaf sebelumnya, apakah sekarang kamu sedang dalam keadaan dikhitbah orang lain?

Rindu tercenung setelah membaca sebuah SMS pagi ini. Sebelumnya ia tak menyangka bahwa apa yang dulu diwanti-wanti oleh teman halaqahnya benar-benar akan terjadi padanya.

Ukhti Nahda pernah bercerita pada Rindu tentang proses pernikahannya. Bagaimana pertama kali ia bisa bertemu sang calon suami lalu dilanjutkan dengan ta'aruf, khitbah dan persiapan akad nikah. Setiap proses itu memang tak selalu mudah. Namun ada satu poin penting yang disampaikan ukhti Nahda waktu itu, yakni saat proses menuju akad nikah. Walaupun saat itu restu sudah didapatkan dan tanggal pun telah ditetapkan, bukan berarti jalan selanjutnya akan menjadi bebas hambatan. Pada kenyataannya ujian pada masa itu melebihi proses-proses sebelumnya. Sebab kali ini yang diuji adalah kemantapan hati.

Ukhti Nahda kemudian memaparkan kisah mengenai orang dari "masa lalu" hingga orang baru yang seperti tiba-tiba saja bermunculan. Bahkan bisa saja salah satu diantara mereka adalah seseorang yang sebenarnya telah lama diharapkan. Lantas bagaimana? Tidak bisa menerima namun juga berat untuk menolak. Dan itulah ujian akhir sesungguhnya menuju janji suci pernikahan.

Sebagai muslimah kita tidak boleh terombang-ambing dalam perasaan. Tegaslah pada diri sendiri dan siapapun yang mencoba goyahkan iman. Ingatlah, ikatan khitbah bukanlah ikatan sembarangan yang seenaknya bisa diputuskan. Disana ada komitmen yang harus diperjuangkan dan ukhuwah yang wajib diselamatkan. 

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu; bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang lelaki (muslim) tidak boleh meminang (wanita) yang telah dipinang lelaki (muslim) lain, sampai lelaki pertama membatalkan pinangannya atau dia mengizinkan lelaki kedua (untuk meminang si wanita).”

*Hikmah syariat ini adalah menihilkan permusuhan dan kemarahan yang bisa menyebabkan satu pihak menganggap dirinya suci dan mencela pihak lain. Padahal menganggap suci diri sendiri adalah tindakan tercela. Ibnu ‘Abidin (yang merupakan salah seorang ulama fikih Mazhab Hanafi) mengatakan bahwa sebuah pinangan yang menimpali pinangan lain merupakan bentuk ketidakramahan dan pengkhianatan.

Rindu menghela nafas panjang. Tentu ia tak ingin menjadi pengkhianat yang merupakan salah satu ciri dari orang munafik. Alhamdulillah Allah masih menjaganya melalui ilmu dan nasehat. Setelah menata hati dan pikiran, ia pun membalas SMS itu..

Iya sudah. Tolong jangan menghubungi saya lagi ya. Terimakasih.

Begitulah akhirnya. Singkat dan jelas. Tanpa perlu keterangan atau basa-basi lainnya. Sebab jodoh selalu datang tepat pada waktunya. Jika terlambat maka bukan jodoh namanya. Itu saja.

(dhini iffansyah)

*Sumber: https://muslimah.or.id/4784-menimpali-pinangan-lelaki-lain.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan lidah dan perbuatan tangannya. (HR.Bukhori)