Rabu, 03 Juni 2015

Tentang Ramadhan

Ini adalah penggalan kisah ku di bulan yang mulia. Sedikit memori berharga yang ingin ku tuangkan dalam rangkaian kata sederhana.

Puasa pertamaku saat usia 6 tahun. Mama selalu sabar membangunkan ku untuk ikut sahur. Aku tak pernah bisa mengingat menunya karena terpaksa mengunyah dalam kondisi setengah sadar bahkan dengan kedua mata yang masih terpejam. ( ̄﹁ ̄)

Ketika siang hari sehabis pulang sekolah, aku langsung "mengibarkan bendera putih" meminta kebijakan untuk berbuka puasa lebih awal. Mama pun mengizinkan. Air es dari kulkas selalu jadi sasaran utama. Kejadian yang sama berulang dan hanya berakhir bila sudah terserang batuk. (≧﹏≦)

Suatu sore aku pernah duduk di pangkuan Papa di teras rumah. Dengan polosnya aku nyeletuk, "Kok kayak ada bau kentut?". Dan seperti biasa Papa akan menjawab lembut. "Bukan, itu bau mulut Papa, kan lagi puasa. Bau mulut orang puasa itu bau Surga." Beliau pun mulai menjelaskan ini-itu perihal puasa. Aku hanya manggut-manggut meski tak seberapa paham. (∩﹏∩)

Salah satu hobinya Papa adalah hunting menu favorit sampai keluar kota. Berbagai kue khas banjar yang (mungkin) belum afdhol kalau belinya bukan di Pasar Wadai Barabai. Walaupun jauh, tapi senang juga bisa pergi bareng keluarga. (=^_^=)

Best moment of Ramadhan tentu saja saat berbuka puasa. Kami sekeluarga gotong royong menyiapkan hidangan di atas tikar yang sengaja digelar. Walau ada meja makan tapi kami lebih suka lesehan di ruang tv. Ngabuburit sambil nonton acara Kultum di rcti. (∩▂∩)

Suasana buka puasa bareng keluarga besar selalu ramai. Diwarnai dengan canda tawa dan saling menggoda satu sama lain sebagai ritual pelepas rindu karena jarang bertemu. Tanpa terasa azan maghrib pun menggema di langit senja. (∩▽∩)

Kelas 5 SD mulai ada penugasan di bulan Ramadhan. Ada buku khusus yang mencatat ibadah yang sudah dijalankan. Alhasil jadi rajin ikut Mama ke masjid untuk tarawih dan sholat subuh berjama'ah. Sehabis sholat langsung bergerombol dengan puluhan anak lain yang ngantri minta tanda tangan sang Imam masjid. (X﹏X)

Hingga tiba hari lebaran yang menyempurnakan kegembiraan. Pakaian dan sepatu baru, salam tempel, silaturahim ke berbagai tempat, makan-makan-makan dan makan !. Libur Lebaran. Lebaran sambil Liburan. *\(^_^)/*

Itulah kisah tentang Ramadhan ku yang dulu.

Di tahun ini ku harap Ramadhan yang jauh lebih berarti.
Lebih semangat dan bersungguh-sungguh dalam amal yaumi.
Bukan sekedar haha-hihi !
Agar kemenangan sejati itu diraih sebagai bekal menuju taman surgawi.

Aamiin ya Rabbal'alamin.

(dhini iffansyah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Orang Islam itu adalah orang yang orang-orang Islam lainnya selamat dari ucapan lidah dan perbuatan tangannya. (HR.Bukhori)